KARANGMOJO, Minggu Legi—Reklamasi Teluk Jakarta adalah upaya Cina dalam membuat jalur sutera laut dan jalur sutera darat untuk menguasai dunia. Hal ini diungkapkan H Ahmad Hanafi Rais, S.IP, M.P.P, anggota Komisi I DPR RI dalam diskusi politik guyon maton di Balai Desa Karangmojo.
Reklamasi adalah upaya menimbun lautan yang diubah menjadi daratan. Dan itu sudah dilakukan di beberapa titik di NKRI antara lain Teluk Jakarta, sekitar Kepulauan Natuna, juga disekitar Pulau Bali.
“Reklamasi kalau sudah jadi seperti maunya pengembang, itu nanti akan menjadi jalur laut dari maritim Cina. Indonesia hanya akan dapat brutune(red-pantatnya), padahal mestinya kita dapat menikmati dagingnya yang empuk,” paparnya.
Menurut Hanafi Rais, sudah bukan rahasia umum lagi jika tahun 2013 lalu Presiden Cina, Xie Jinping mengatakan Cina akan membangun jalur sutra darat dan jalur sutra laut. Khusus jalur sutra laut rutenya dari Laut Cina Timur, Laut Cina Selatan, berbelok ke perairan Natuna, Selat Sunda, Samudera Hindia dan ujungnya di Eropa.
Sejak Natuna hingga yang sekarang di reklamasi itu masuk kawasan ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif) Indonesia. Artinya kapal asing bisa lewat bebas, namun tak dapat memancing apalagi bisnis disitu.
“Saat ini pemerintah sibuk membangun jalur tol, jalur kereta api, itu semua duitnya dari Cina. Kalau Cina memberi, kira-kira punya maksud atau tidak ? Tidak ada sekarang jamannya makan siang gratis kan ?” urainya.
Jika jalur-jalur itu sudah dibentuk, papar Hanafi, besar kemungkinan pihak Cina pasti meminta Indonesia tidak mempermasalahkan jika kapal-kapal perang Negeri Tirai Bambu melintas secara bebas di perairan Nusantara. Sebab tidak ada ceritanya pemberian dukungan ekonomi tanpa ada kepentingan militer disitu.
“Kecuali latihan bersama, kapal perang asing tidak boleh melintas di perairan kita. Sensitif itu, namanya kapal perang ya pasti bawa persenjataan, amunisi, belum tentaranya, belum intelnya dan macam-macam,” papar putra sulung HM Amien Rais ini.
Apalagi melihat pesatnya pembangunan jalan tol maupun rel kereta api di seantero nusantara, jelas tak lepas dari kepentingan Cina di Indonesia. Sebab seluruh tenaga kerja yang membangun semua itu berasal dari Cina. Padahal, banyak pengangguran di Indonesia yang membutuhkan pekerjaan.
Disisi lain mantan calon Walikota Yogyakarta ini juga menuding serbuan narkoba (narkotika dan obat-obatan terlarang) di Indonesia juga tak lepas dari peran Cina. Hanya segelintir konglomerat dari etnis Cina yang menjadi bandar besar pengimport narkoba namun tak pernah tersentuh hukum.
“Saya hitung angkanya tak lebih dari lima orang, dan saya tahu itu siapa saja. Fredi Budiman yang ditembak mati itu tidak ada apa-apanya dibanding yang lima ini,” pungkasnya.
Secara tersirat, Hanafi Rais menuding importir narkoba kelas kakap itu salah satunya pemilik bank besar di Indonesia. Maka wajar dengan dana tak terbatas mampu import narkoba dalam jumlah besar. Untuk itu pihaknya berharap TNI dilibatkan dalam perang melawan narkoba. Sebab dimanapun negaranya, yang namanya perang harus militer/tentara dan bukan hanya polisi maupun BNN. Red






