GUNUNGKIDUL, Jumat Pahing – Banyak bully beredar di media sosial kemudian menjadi konsumsi publik. Bahasa bully atau olok-olok semula terkesan tak membawa dampak, karena si pembully tak bermaksud lain kecuali hanya bercanda. Bully/ olok-olok / meme, canda atau apapun sebutannya, manakala berlebihan, bisa menimbulkan rasa tidak nyaman, bahkan membuat seseorang untuk melakukan bunuh diri.
Ada banyak definisi soal bullying. Setiap negara memiliki istilah berbeda-beda, meskipun pada intinya memiliki makna yang sama.
Menurut Susanti bullying berasal dari kata bully yang artinya penggertak, atau orang yang mengganggu orang lain yang lebih lemah (Halimah, dkk dalam Jurnal Psikologi Volume 42, No. 2, Agustus 2015: 129 – 140).
Di Indonesia, terdapat beberapa istilah seperti perpeloncoan, penindasan, pengucilan, dan berbagai istilah lain yang digunakan untuk menggambarkan perilaku bullying.
Bullying bisa terjadi kapan, di mana serta kepada siapa pun, tidak kenal waktu, tempat, dan subjek bullying. Bisa mulai dari anak-anak jenjang pendidikan dasar hingga remaja yang berada di jenjang pendidikan tinggi. Semua orang berpotensi menjadi ‘pelaku’ dan ‘korban’ bullying.
Hal ini dapat dilihat pada beberapa kasus bullying yang baru-baru ini terjadi, dan masih segar dalam ingatan kita.
Contoh pertama yaitu kasus Afi Nihaya. Siswa SMA ini terkenal karena tulisannya yang viral, kemudian dibully karena ternyata diketahui bahwa tulisan tersebut adalah plagiat.
Dalam kasus ini, peristiwa bullying dilakukan secara non fisik, namun dampak yang dihasilkan boleh jadi malah lebih dari pada jika Afi menerima bullying dalam bentuk fisik.
Luka fisik dapat dirasa, tapi luka batin? Tak ada yang tahu apa yang kemudian dipikirkan Afi Nihaya. Demikian hebatnya tekanan psikologis yang diterima hingga ia sempat berkeinginan untuk bunuh diri.
Contoh kedua yaitu kasus bullying yang baru-baru ini terjadi di kampus Gunadarma. Bullying dilakukan oleh para mahasiswa. Padahal seperti yang kita tahu, pendidikan tinggi bukan lagi sebagai arena berfikir main-main.
Mahasiswa seharusnya lebih dewasa, menimbang bagaimana perasaan orang yang dibully.
Kedua kasus tersebut menjadi pelajaran berharga bagi kita. Ejekan, sindiran, kritikan dan candaan yang berlebihan bisa menjadi negatif pada titik tertentu.
Oleh karena itu, kita harus berhati-hati saat mengucapkan sesuatu. Jangan berlebihan, mau lempar kritik tak dilarang, tetapi dengan bahasa yang halus.
Bercanda sekadarnya, jangan sampai menimbulkan orang lain marah atau sakit hati. Tidak elok rasanya kita menjandi pelaku atau korban bullying.
Penulis: Devi Erhma.













