Bambang Soesatyo: Tanggalkan Isu Sara Untuk Merah Putih

177

“Membaca Indonesia hari ini pada dasarnya adalah bagaimana menyebarluaskan nilai-nilai Pancasila ke ruang publik secara masif dengan memanfaatkan ruang maya dan media-media kreatif. Pancasila sebagai perekat harus terus kita rawat untuk membendung gelombang politik identitas yang menganggu rasa kebangsaan,” pintanya.

Ketua Badan Bela Negara Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan Indonesia (FKPPI) ini optimis. di relung hati terdalam, setiap masyarakat Indonesia pasti merindukan kedamaian. Sebagai sebuah bangsa, Indonesia mempunyai akar sosio historis yang kuat. Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 misalnya, menjadi titik kepeloporan pemuda dalam revolusi yang menyatakan bertumpah darah satu, berbangsa satu, menjunjung tinggi bahasa persatuan, Indonesia.

“Usai Proklamasi 17 Agustus 1945, pluralisme semakin menjadi kekuatan utama dalam mengisi dan mempertahankan kemerdekaan. Lantas kenapa di era milenium ini kita justru meninggalkan pluralisme? Kita seperti lupa akar sejarah bangsa yang majemuk. Padahal, kemajemukan inilah yang sejak dulu menjadi kekuatan utama kita, baik dalam melawan penjajah maupun dalam mengisi kemerdekaan,” imbuhnya.

Menyikapi hal ini, dia menegaskan DPR RI akan terus melakukan counter narrativ terhadap setiap gagasan dan aksi yang mengancam pluralisme. Dengan demikian, spirit nilai-nilai Pancasila sebagai bagian dari narasi kebangsaan akan terus dibumikan.

“Mari jaga bangsa dan negara kita sebaik mungkin. Jangan khianati nenek moyang yang sudah menghadirkan kedamaian di bumi pertiwi. Kita punya tugas mulia memberikan tauladan sekaligus mewariskan Indonesia yang berkeadaban kepada para anak-anak kita. Jangan biarkan karena hasrat politik segelintir orang justru akan merobek Merah Putih yang kita cintai,” pungkasnya. (Tan/Red)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.