OPINI

BERGURU PADA SEMANGKOK BAKSO DAN SECANGKIR KOPI

WONOSARI, Selasa Pahing, -Wisatawan yang melancong ke Gunungkidul pada malam tahun baru 2018 terbagi menjadi 4 kategori, domestik/lokal, regional, nasional borjuis, dan wisatawan manca negara. Daya beli mereka terhadap barang-barang konsumsi (kuliner) di berbagai tempat hiburan berbeda-beda. Khusus wisatawan domestik lokal, dan regional, daya beli mereka atas semangkok bakso dan secangkir kopi terpantau kedodoran.

Wisatawan lokal dan regional dengan duit pas-pasan selalu terkaget-kaget ketika makan bakso semangkok harus merogoh kocek Rp 50.000,00. Ini potret kecil dari warga biasa (rakyat jelata), yang realitasnya bisa mencapai 90 % lebih.

Mereka  tidak siap membayar belanja konsumsi kuliner pada sektor rekreasi yang secara tiba-tiba melambung setinggi langit.

Seorang pelancong super lokal duduk di sebuah warung. Dia memesan  semangkok bakso dan kopi hitam panas. Usai makan beranjak menuju kasir. Ambil selembar uang ratusan ribu, terima kembalian Rp 25.000,00.

“Busyet mahal amat, mentang-metang malam tahun baru,” ujar turis domestik menggerutu.

Dia sangat tidak memahami bahwa pada momentum menunggu tahun baru 2018, di berbagai tempat hiburan terjadi lonjakan tarif jajanan, mengikuti hukum besi ekonomi.

Turis kategori ini tetap saja  membayar tetapi bercampur kesal dan sesal. Harap maklum Upah Minimum Regional atau Upah Minimum Kabupaten mereka berada di bawah Rp 1,5 juta per bulan.

Berbeda jauh dengan daya beli wisatawan nasional kelas borjuis atau wisatawan manca negara. Melancong, bagi mereka merupakan bagian dari kebutuhan yang memang dipersiapkan secara matang.

Berapapun biaya yang harus dikeluarkan tidak masalah. Bakso semangkok Rp 250.000,00 pasti terbayar, bahkan pemilik warung kadang masih memperoleh tip (tambahan bonus).

Pemilik warung kuliner salah? Tentu saja tidak. Sebagai penyangga ekonomi kategori UKM, malam tahun baru adalah waktu yang tepat untuk menambal kepedihan.

Wisatawan domestik yang dompetnya pas-pasan, seyogyanya tidak meniru gaya belanja wisatawan borjuis dan manca negara. Belanja pendidikan mestinya menjadi pilihan dan tidak memprioritaskan belanja rekreasi.

 

Penulis: Bambang Wahyu Widayadi

infogunungkidul

Recent Posts

Indikasi Praktik Manipulasi TPR Baron, DPRD Minta Audit Menyeluruh

GUNUNGKIDUL-SENIN KLIWON, Persoalan tata kelola pendapatan sektor pariwisata khususnya wisata pantai di Kabupaten Gunungkidul, masih…

5 hari ago

Lupa Matikan Kompor, dua Rumah Ludes Terbakar Berikut Perhiasan dan Uang Tunai

TANJUNGSARI - SENIN KLIWON, Rumah milik Karim (71) warga Padukuhan Panggang 02/10, Kalurahan Kemiri, Kapanewon…

5 hari ago

Janabadra Club Dorong Sinergisitas Alumni Nasional untuk Kontribusi Almamater dan Bangsa

YOGYAKARTA-SENIN KLIWON, Lintas generasi alumni Universitas Janabadra (UJB) Yogyakarta menggelar acara halalbihalal nasional di Swiss-Belresidences…

5 hari ago

Kronologi Lengkap Penemuan Mayat Kering di Dalam Mobil Terparkir

YOGYAKARTA - MINGGU WAGE, warga Dusun Tiyasan, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, provinsi DIY…

6 hari ago

Diduga Mencuri Sepeda Gunung, Oknum Anggota SatPol PP Diamankan Polisi

WONOSARI - SABTU PON, Sebuah  tamparan keras institusi pemerintahan kembali terjadi. Kali ini RDS alias…

1 minggu ago

DPPPAPPKB dan Polres Gunungkidul Bersinergi Kawal Kasus Asusila Anak di Bawah Umur

GUNUNGKIDUL – RABU KLIWON, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana…

1 minggu ago