Categories: OPINI

BUDAYA MEMANEN AIR HUJAN MACET, AKIBATNYA KEKERINGAN SELALU MELANDA GUNUNGKIDUL

NGLIPAR, (Rabu Wage) – Data BNPB tahun 2018 menunjukkan, kekeringan melanda 16 provinsi, meliputi 102 kabupaten/ kota dan 721 kecamatan. Akhir Juli 2018, kekurangan air melanda 111.000 hektar lahan pertanian.

Perilaku keseharian masyarakat dan pemerintah, di sebagai daerah rawan kekeringan Gunungkidul belum memanfaatkan dan mengelola air secara bijaksana. Pada musim hujan, Pemda bahkan sedikit lupa, menyiapkan perangkat kebijakan.

Ketika hujan banjir, kala kemarau, kekeringan. Untuk itu, penting menyiapkan langkah preventif dan kuratif. Preventif, berarti upaya pencegahan agar tahun depan tidak terjadi kekeringan, misal, budaya panen air (menampung air hujan). Bisa pula buat sumur resapan, embung atau telaga di setiap daerah.

Budaya menampung air hujan minim, menyebabkan tidak ada cadangan air di masyarakat, ketika kemarau berkepanjangan berakibat krisis air.

Tindakan kuratif, dengan mencari sumber mata air di perkampungan, gali sungai kering, telaga, rawa, sumur kering diperbaiki. Kalau digali, air akan terkumpul dan keluar lagi.

Jadi, penerapan teknologi sederhana terkait pengelolaan air hujan melalui budaya gerakan TRAP (tampung, resapkan, alirkan, dan pelihara) harus menjadi gerakan bersama. Pola gerakan, bisa menjadi program jangka panjang, melalui perencanaan dengan koordinasi antar OPD dan lembaga, hingga peran langsung masyarakat.

Budaya TRAP di Gunungkidul, bisa dengan alat sederhana dan biaya yang murah,  penampung air bernama rain filter, terdiri dari rangkaian pipa menuju ke bak penampung dan sumur resapan. Melalui rangkaian pipa  ini, air hujan yang masuk bisa tersaring dari debu dan kotoran. Jadi, yang masuk bak penampungan dalam bentuk air bersih. Bila bak penuh, air akan mengalir ke sumur resapan dan menjadi cadangan air tanah, cocok untuk dilakukan masyarakat. Air lebih bersih dibanding produk  PDAM.

Masalah memanen air hujan merupakan budaya lokal. Sudah puluhan tahun lalu tetapi sekarang mundur. Masyarakat seperti malu, takut, atau gengsi, menampung air hujan, sehingga cenderung mengandalkan air PDAM.

Pemerintah harus melirik program ini atau membuat terobosan, memperbanyak bendungan agar ketersediaan air bisa tercukupi.

Ayo jangan malu/gengsi untuk membuat tampungan air hujan,  kita tak perlu ketergantungan dengan pipanisasi/ PDAM/ sumur bur,  dan yang lain

Penulis        : Slamet S.Pd. MM

Foto utama: Slamet S.Pd. MM

infogunungkidul

Recent Posts

UNS Wisuda 1.082 Mahasiswa Periode VII Tahun 2026

SURAKARTA - MINGGU WAGE, UNIVERSITAS Sebelas Maret (UNS) Surakarta mewisuda sebanyak 1.082 mahasiswa di Auditorium…

3 hari ago

Unjuk Rasa di Yogya Berlangsung Aman

YOGYAKARTA - JUM'AT PAHING, POLDA Daerah Istimewa Yogyakarta memastikan, aksi demontrasi yang berlangsung pada siang hingga…

5 hari ago

Pendidikan Khas Kejogjaan Masuk Kurikulum Perguruan Tinggi

YOGYAKARTA - JUM'AT KLIWON, GUBERNUR Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X secara…

2 minggu ago

Bantul Diguncang Gempa Magnitudo 3,6

BABTUL - KAMIS WAGE, KABUPATEN Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta diguncang gempa bumi tektonik dengan…

2 minggu ago

Terbanyak Sepanjang Sejarah, UGM Wisuda 3.865 Mahasiswa

YOGYAKARTA - KAMIS WAGE, SEBANYAK 3.865 mahasiswa Universitas Gadjah Mada program sarjana dan sarjana terapan…

2 minggu ago

Belasan Ribu Mahasiswa Baru UNY Ikuti PKKMB

YOGYAKARTA - SELASA PAHING,  SEBANYAK 18.850 mahasiswa baru atau Maba Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Tahun…

2 minggu ago