Buka Lapak Walang Goreng Tepi Jalan Untuk Beli Mobil

1327

PLAYEN, Minggu Wage,  -Pasangan suami-istri (pasutri) Sukir-Suliyanti, warga Padukuhan Karangasem, Desa Mulo, Kecamatan Wonosari, menekuni lapak walang goreng. Sebagian penghasilan disisihkan, selama dua tahun dia bisa membeli mobil.

“Saya mangkal di Taman Hutan Raya (Tahura) Tleseh, Bunder sejak 2016,” ujar Sukir, (14/1).

Seraya sibuk membolak-balik walang goreng, Sukir bercerita, awalnya dia buka lapak di Jalan Baron. Tahun 2016  bergeser Tahura dengan pertimbangan setiap hari ramai pembeli.

“Berbeda dengan di Jalan Baron, ramai hanya Sabtu dan Minggu. Jalur Jogja Wonosari tidak pernah sepi,” kata dia.

Walang yang digoreng di rumah, kemudian dijajakan di tepi jalan, menurutnya kurang disukai pembeli.

Gurih atau pedas tetap terasa, tetapi kemriuknya hilang. Timbul gagasan menggoreng walang di tepi jalan, hingga kini.

Buka lapa di komplek Tahura, di samping hari raya, dalam setahun Sukir menikmati 114 hari Sabtu Minggu. Hari seperti itu dia kelarisan rata-rata 40 toples @ Rp 25.000,00.

Di luar hari biasa, penghasilan kotor khusus untuk Sabtu-Minggu Sukir menerima 40 x 114 x RP 25.000,00 = Rp 114.000.000,00.

Sementara total harga walang mentah 456 kg x Rp 150.000,00 =  Rp 68.400.000,00. Selama 2 tahun berjalan 2016 – 2017, Sukir punya sisa lebih Rp 45.600.000,00.

“Sepanjang badan sehat dan tidak ada kepentingan sosial, saya tiap hari berjualan walang goreng,” akunya.

Tidak jauh dari lapak dibuka, terpakir mobil cary station AB  1898 RA tiap hari dugunakan  untuk mengangkut dagangan.

Ketika didesak Sukir mengaku, mobil yang menemani dia berjualan seharga Rp 48.000.000,00.

Tidak lepas suka duka, lapak walang gorengya pada lebaran 2017 silam sempat diuber Satuan Polisi Pamong Praja. Teman-teman Sukir tidak kurang dari 30 orang sebagian ketakutan. Saat ini yang berani buka tinggal 11 orang. Agung Sedayu_ig




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.