PALIYAN – Selasa Pon | Kirab budaya, apapun bentuk dan jenisnya selalu berkaitan dengan kegiatan hingar-bingar. Aneka kebudayaan dipertontonkan secara atraktif, diarak, berjalan keliling dusun, bahkan desa.
Di Padukuhan Tahunan, Desa Karangduwet, Kecamatan Paliyan, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta ada sedikit yang berbeda.
VIDEO TERKAIT :
Di tengah keramaian, buku kuno (benda kebudayaan) hampir tidak diperhatikan orang, kecuali Wakil Bupati Gunungkidul, Dr. Immawan Wahyudi.
Selesai melepas 10 barisan peserta kirab, dalam konteks menyongsong musim tanam 2019/2020, Immawan menghampiri stand pusaka. Wakil Bupati Gunungkidul tertarik buku kuno setebal 10 cm lebih.
Buku tersebut menurut penjaga stand pameran, umurnya ratusan tahun, berisi tembang, ditulis dengan huruf Jawa. Saat ini, terlalu sedikit orang yang mampu membaca buku tersebut.
Sutaya, penyimpan sekaligus pewaris buku kuna itu pun mengaku tidak bisa membacanya.
“Kidung adalah doa, atau panyuwunan,” ujar Immawan Wahyudi (9/9/19), saat berbincang dengan Sutaya.
Buku kuno tetsebut, 70 tahun silam, masih dibaca di setiap arena jagong bayi. Saat ini, jarang, nyaris tidak pernah dilakukan.
Isi tembang, diceritakan berupa pupuh Dhandhang Gula, Mas Kumambang, Sinom, Kinanthi, Asmaradana, Durma, Pangkur, Mijil, serta Pucung. (Bambang Wahyu Widayadi)





