PATUK, Selasa Kliwon – Matapencaharian warga Kabupaten Gunungkidul adalah bercocok tanam. Sampai kapan pun pertanian tidak akan pernah ditinggalkan. Sebaliknya pertanian ditingkatkan untuk mendukung perkembangan dunia pariwisata.
Bupati Gunungkidul Hj. Badingah S.Sos. menyatakan hal itu di forum temu tani, enam kelompok tani penerima alsintan (alat mesin pertanian) serta lima kelompok penerima kebun bibit rakyat (KBR), dari dana aspirasi 2017, di Batoer Hill, (7/8).
Perkembangan dunia wisata Gunungkidul menurut Bupati cukup luar bisa. Hal tersebut perlu dukungan sumber daya manusia trampil di bidang pertanian.
“Gunungkidul tidak akan meninggalkan pertanian. Pemerintah menyadari, pertanian adalah tulang punggung pembangunan,” ujar Badingah.
Hasil pertanian, demikian Hj. Badingah berkeyakinan, bisa diolah menjadi menu utama berupa kuliner atau buah tangan.
Dia menyebut conthoh Desa Nglanggeran, dengan adanya taman teknologi pertanian, kakao yang lima tahun silam hanya dijual mentah, sekarang telah menjadi makanan serta minuman, tidak kalah dengan buatan pabrik.
Hadir dalam temu tani, tamu kehormatan, Siti Hediati Soeharto (Titiek Soeharto), Wakil Ketua Komisi IV DPR RI sebagai pembawa bantuan dana aspirasi untuk sebelas kelompok.
Diketahui, 11 kelompok yang hadir, enam kelompok menerima power threaser (alat pemanen pertanian), sedang lima kelompok memperoleh dana KBR masing-masing Rp 50.000.000,00.
“Bantuan yang diserahkan kepada petani bertujuan menopang dan mempercepat proses tercapainya swasembada pangan,” kata Titiek Soeharto.
Dia menandaskan, dengan adanya bantuan mesin pemanen, tiga komoditas beras, jagung dan kedelai, proses penanganannya akan lebih cepat dan efektif. Agung Sedayu













