GUNUNGKIDUL – SABTU PAHING |Bekerjasama dengan Laboratorium Sosial (Labsos) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Proklamasi 45 dan Pusat Studi Gunungkidul (PSG), warga Padukuhan Salam, Kalurahan Salam, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul, mengadakan Festival Layang – Layang 2025 di Bukit Salam, Minggu (28/09).
Hal tersebut disampaikan Subarno, panitia Festival Kontes Layang – Layang, Jumat (26/09). Pihaknya menjelaskan tujuan kegiatan tersebut, selain melestarikan tradisi lokal sebagai warisan budaya, juga dimaksudkan sebagai sarana edukasi.
“Kegiatan Festival Kontes Layang – Layang 2025 ini akan diadakan hari Minggu 28 September 2025 pukul 10.00 WIB hingga selesai,” ucapnya saat ditemui di Sekretariat Panitia Festival Layang – Layang 2025.
Pengetahuan akan pentingnya kreativitas dan inovasi teknologi dalam tradisi lokal yang tumbuh berkembang di masyarakat, demikian dijelaskan Subarno, yang juga pengiat Kelompok Desa Wisata Kalurahan Salam.
”Rangkaian kegiatan antara lain lomba layang- layang untuk kategori umum, workshop edukasi pembuatan layangan bagi anak – anak dan kontes layang – layang untuk masyarakat umum,” tambahnya.
Pihak panitia, dikatakan Subarno, menyediakan hadiah jutaan rupiah, dan banyak doorprice sebagai bentuk apresiasi bagi peserta kegiatan tersebut. Untuk itu, panitia berharap masyarakat umum untuk dapat ikut serta dan berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
“Untuk informasi terkait kegiatan dapat menghubungi panitia atas nama Nurohim dengan kontak 088983745268/ 087780175320,“ ucapnya.
Atas terselenggaranya acara, diungkapkan Subarno, atas nama panitia mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung kegiatan tersebut.
Ditemui terpisah, Ketua Laboratorium Sosial Fisipol UP45 Nurhadi mengatakan bahwa, selaku mitra pendukung pihaknya mengapresiasi kegiatan Festival Kontes Layang – Layang 2025 yang dilakukan oleh warga Padukuhan Salam, sebagai upaya mengembangkan potensi desa yang ada.
Selain itu, Nurhadi berujar, tradisi lokal membuat layang – layang ini merupakan modal sosial untuk menumbuhkan spirit kebersamaan warga, sarana edukasi, dan mengasah inovasi serta mengembangkan daya tarik wisata melalui atraksi tradisional layang – layang.
“Saat ini, anak – anak hanya sibuk dengan bermain gadget yang terkadang berdampak negatif bagi tumbuh kembang anak. Untuk itu, kegiatan Festival layang – layang ini dapat menjadi event bagi anak maupun orang tua untuk kembali ke alam bermain sembari belajar tentang sains dan pengetahuan berbasis tradisi local. Anak – anak menjadi senang, dan tumbuh kreativitasnya,” jelas Nurhadi yang juga Ketua Pusat Studi Gunungkidul (PSG).
Penulis: Akbar Nhs
Editor: HRD






