Kelangkaan air yang rutin di setiap musim kemarau seharusnya tidak membuat warga Gunungkidul putus asa – mengeluh dan rutin menunggu bantuan/ droping air dari BPBD maupun bantuan dari kelompok masyarakat.
Satu catatan khusus, kelangkaan air tidak perlu didramatisir dan dibesar-besarkan, juga tidak perlu menjadi pemberitaan media (elektronik/ cetak) secara berlebihan.
Catatan saya yang lain, banyak yang kemudian silih berganti menyumbang kemudian “swafoto/selfie” dengan warga. Hal seperti itu menurut saya tidak begitu relevan. Yang paling penting mesti kita sadari ialah, bahwa kelangkaan air merupakan peristiwa alam yang setiap musim kemarau terjadi di manapun.
Oleh karena itu inti tulisan ini sekedar mengingatkan, bahwa janganlah kelangkaan air yang terjadi setiap musim kemarau dijadikan ajang untuk selalu dan selalu mengharap droping air tanpa upaya yang mengarah ke pemecahan persoalan.
Kita yakin, bahwa banyak sungai bawah tanah yang dapat dimaksimalkan untuk memenuhi kebutuhan air layak konsumsi bagi seluruh warga Gunungkidul secara adil dan merata. Bantuan berupa droping air sebaiknya cukup menjadi beban APBD (BPBD) dan bantuan dari masyarakat.
WONOSARI - SABTU PON, Sebuah tamparan keras institusi pemerintahan kembali terjadi. Kali ini RDS alias…
GUNUNGKIDUL – RABU KLIWON, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana…
GUNUNGKIDUL – SELASA PON, Seorang laki-laki berinisial S (64), warga Kramatwatu, Kabupaten Serang, Banten, ditemukan…
PALIYAN - MINGGU PAHING, Pengemudi Toyota Inova diduga mengantuk mengakibatkan kecelakaan beruntun di Jalan Paliyan-Saptosari,…
YOGYAKARTA - SABTU LEGI, UNIT Studi Hukum Perdata (USHP) Fakultas Hukum Universitas Janabadra resmi meluncurkan…
GUNUNGKIDUL – SABTU LEGI, Menyongsong libur nasional dan perayaan Paskah 2026, Kepolisian Resor (Polres) Gunungkidul…