Kelangkaan air yang rutin di setiap musim kemarau seharusnya tidak membuat warga Gunungkidul putus asa – mengeluh dan rutin menunggu bantuan/ droping air dari BPBD maupun bantuan dari kelompok masyarakat.
Satu catatan khusus, kelangkaan air tidak perlu didramatisir dan dibesar-besarkan, juga tidak perlu menjadi pemberitaan media (elektronik/ cetak) secara berlebihan.
Catatan saya yang lain, banyak yang kemudian silih berganti menyumbang kemudian “swafoto/selfie” dengan warga. Hal seperti itu menurut saya tidak begitu relevan. Yang paling penting mesti kita sadari ialah, bahwa kelangkaan air merupakan peristiwa alam yang setiap musim kemarau terjadi di manapun.
Oleh karena itu inti tulisan ini sekedar mengingatkan, bahwa janganlah kelangkaan air yang terjadi setiap musim kemarau dijadikan ajang untuk selalu dan selalu mengharap droping air tanpa upaya yang mengarah ke pemecahan persoalan.
Kita yakin, bahwa banyak sungai bawah tanah yang dapat dimaksimalkan untuk memenuhi kebutuhan air layak konsumsi bagi seluruh warga Gunungkidul secara adil dan merata. Bantuan berupa droping air sebaiknya cukup menjadi beban APBD (BPBD) dan bantuan dari masyarakat.
YOGYAKARTA - SENIN PAHING, Sebanyak 210 mahasiswa UPN “Veteran” Yogyakarta yang terpilih sebagai kakak asuh…
RONGKOP - KAMIS PON, Musim kemarau panjang tahun ini membawa tantangan ganda bagi Kabupaten Gunungkidul.…
WONOSARI - RABU PAHING, Sebanyak 8 (delapan) mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Pertanian Bogor…
YOGYAKARTA - KAMIS LEGI, POLDA Daerah Istimewa Yogyakarta kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Dua…
GUNUNGKIDUL - KAMIS LEGI, Pagi buta, M (76) seorang kakek warga Padukuhan Tonggor, Kalurahan Pacarejo,…
GUNUNGKIDUL - KAMIS LEGI, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan satu unit Mobil Ambulan…