SEJAK 1958 – 1963 saya tinggal di Semanu, terbiasa dengan keterbatasan dalam memanfaatkan air bersih. Untuk mandi saja satu ember buat bertiga. Kalau mau mandi dengan cukup air harus jalan kaki sejauh 1,5 km menuju belik (sumber air) di kali Jirak.
Alhamdulillah, sejak kepindahan ke kota Wonosari (1964) baru mendapatkan air yang mencukupi untuk kebutuhan keluarga, menggunakan sumur gali, ditimba menggunakan tambang (dadung).
Kelangkaan air yang cukup lama, sedikit demi sedikit mulai dapat teratasi dengan dibangunnya PDAM serta upaya pengeboran yang dilakukan oleh pemda maupun swadaya masyarakat.
Kita semua tentu berharap suatu saat 18 wilayah kecamatan atau 144 desa di kabupaten Gunungkidul tidak terjadi lagi kelangkaan air. Warga dapat menikmati air layak konsumsi dan cukup.
Inilah yang mesti diperjuangkan terus menerus meski tidak mudah, mengingat kondisi geografis (perbukitan) dan sebaran penduduk tidak merata.
YOGYAKARTA - JUMAT PON, SEBANYAK 5.880 mahasiswa baru Tahun Akademik 2026/2027 Universitas Pembangunan Nasional Veteran…
YOGYAKARTA - KAMIS PAHING, TIM Admisi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) bergerak aktif mengenalkan International Undergraduate…
YOGYAKARTA - JUMAT LEGI, PROFESOR Sony Warsono, MAFIS, Ph.D.,CA, Ak resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar…
YOGYAKARTA - SENIN PAHING, Sebanyak 11.099 mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada mengikuti Pengenalan Kehidupan Kampus…
GUNUNGKIDUL-SENIN PAHING, SD Muhammadiyah Mulusan II Padukuhan Mahbang, Kalurahan Karangasem, Kapanewon Paliyan, menggelar kegiatan jalan…
SLEMAN-SENIN PAHING, SEORANG kakek berinisial N (73) warga Ngalang, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, DIY tewas…