Masyarakat hari ini disibukan dengan jargon Indonesia emas di tahun 2045. Banyak pihak yang sibuk merumuskan tentang hal-hal yang dapat memperbaiki infrastruktur, ekonomi, dan pendidikan. Semua hal disiapkan agar Indonesia di 20 tahun kedepan dapat bersaing dengan negara maju yang lain. Pertanyaannya, apakah mungkin target itu terwujud, sementara anak muda saat ini disibukan dengan tawuran, lebih suka scroll media sosial, suka berbohong, dan membuli?
Di tahun 2045 Indonesia akan mencapai usia satu abad (100 tahun). Pada tahun tersebut, Indonesia diperkirakan akan memasuki masa keemasan. Karena pada saat itu, Indonesia akan dipimpin oleh generasi yang saat ini sedang belajar di bangku-bangku pendidikan. Yaitu sebuah generasi yang sudah terpapar oleh modernisasi digital sejak kecil.
Dikutip dari buku “Implementasi Nilai-Nilai Sesanti Bhineka Tunggal Ika Guna Meningkatkan Kualitas Masyarakat Berbangsa dan Bernegara”, ada tiga katagori disebut sebagai generasi Indonesia emas 2045, yaitu
a) Memiliki kecerdasan yang komprehensif, yaitu produktif dan inovatif.
b) Damai dalam interaksi sosialnya, berkarakter yang kuat.
c) Sehat, menyehatkan dalam interaksi alamnya dan berperadaban unggul.
Dari ketiga katagori di atas, poin nomor dua adalah hal yang sangat penting. Karena kecerdasan seseorang, tanpa adanya karakter baik, dia bisa menjadi alat manipulasi yang sangat berbahaya.
Sehingga yang perlu kita siapkan saat ini adalah pendidikan untuk mengisi hati, bukan sebatas otak saja.
Bayangkan saja, beberapa tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 22 Januari 2022 publik dikejutkan dengan seorang koruptor muda. Seorang gadis yang masih berumur 24 tahun terkena operasi tangkap tangan KPK.
Belum lagi kasus korupsi dan suap yang semakin marak dilakukan oleh orang orang yang berpendidikan tinggi di negeri ini.
Ditambah lagi kasus pelecehan terhadap anak usia dini yang dilakukan oleh guru ngaji dan tokoh agama yang makin menyeruak di media sosial akhir-akhir ini.
Di dalam kasus yang lain, kita dapati intoleransi yang semakin subur. Perbedaan keyakinan dalam jamaah kajian diselesaikan dengan aksi pembubaran.
Perbedaan dalam pilihan politik dijadikan ajang untuk mencaci dan membuli. Mereka menjadikan kekerasan sebagai pengganti dialog diskusi.
Sementara itu, anak-anak muda semakin disibukan dengan media soal. Mereka menghabiskan waktu hanya untuk sekedar menonton hal-hal yang tidak berguna.
Game online, video joget-joget, sampai judi online mereka konsumsi. Hingga tak sedikit yang berakhir pada perkelahian dan bunuh diri.
Kasus yang telah disebutkan di atas, sesungguhnya berawal dari mulai terkikisnya nilai moral, dan
karakter anak bangsa.
Nilai seperti gotong-royong, toleransi, kejujuran, dan kedisiplinan semakin
diabaikan. Bahkan nilai kesopanan pun diabaikan dengan hak kebebasan berekspresi.
Para siswa hanya dituntut oleh sekolah maupun orang tua untuk meraih nilai tinggi dan memiliki keterampilan akademik tertentu. Padahal, mereka lupa bahwa ruh sejati dari pendidikan terletak pada penanaman karakter yang luhur.
Maka pertanyaannya, siapa yang bertanggung jawab?. Dan siapa yang memiliki peran? Jawabannya adalah, semua elemen masyarakat, terutama lembaga sekolah yaitu guru, dan lingkungan masyarakat yaitu keluarga.
Guru dan orang tua memiliki peran yang sangat krusial dalam membentuk akhlak seorang anak. Orang tua adalah pendidik pertama saat anak terlahir didunia. Dari merekalah anak belajar berbicara, bersikap, dan menghadapi masalah sehari hari.
Sehingga sudah seharusnya nilai kejujuran, tanggung jawab, serta sopan santun sudah ditanamkan sejak dari rumah. Kemudian dilanjutkan oleh sekolah, yaitu peran guru.
Bukan hanya sebagai pengajar, akan tetapi sebagai pendidik dan pembimbing yang menasehati serta memberi contoh yang baik kepada para peserta didik.
Terlebih guru agama yang memiliki peran strategis sebagai pembina moral dan spiritual dengan pendekatan religious.
Pada intinya, memperbaiki karakter generasi muda negri ini bukan hanya tugas sekolah, apalagi mengatakan semata-mata tanggung jawab pemerintah. Akan tetapi justru masyarakatlah yang memiliki peran penting, terutama orang tua.
Mereka adalah pondasi awal dalam membentuk kepribadian anak. Tanpa peran orang tua, pembentukan karakter akan timpang dan tidak utuh.
Pendidikan sejatinya bukan cuma soal nilai rapor. Lebih dari itu pendidikan adalah proses pembentukan manusia yang tahu cara bersikap, tahu dan bagaimana menghargai orang lain, dan tumbuh dengan hati yang baik. Itulah hasil pendidikan yang diharapkan.
Pertanyaan sekarang, apakah kita hanya sekedar mengeluhkan keadaan?. Apakah kita hanya menyalahkan orang lain yang belum sadar?. Atau justru mulai bertanya, apa yang sudah aku lakukan untuk masalah ini?. Kontribusi apa yang telah aku berikan untuk generasi ini?
Pendidikan karakter bukan pekerjaan yang instan, tetapi juga bukan sesuatu yang mustahil. Dimulai dari hal-hal kecil seperti, membiasakan berkata jujur, bersikap sopan, tidak menyakiti orang lain. Dan yang paling penting, tidak sekedar nasehat dan omongan belaka, akan tetapi keteladanan nyata di dalam prilaku sehari-hari.
Kita tidak bisa berharap anak-anak berkata jujur, jika kita masih gemar berbohong. Kita tidak bisa berharap anak-anak berperilaku sopan, jika lingkungan di sekitarnya adalah orang-orang yang justru saling menghina.
Maka, membangun karakter harus dimulai dari membangun budaya teladan, bukan sekedar ceramah omong kosong!
Ki Hajar Dewantara bernah berkata
“Jika ingin mengubah dunia, mulailah dengan mengubah diri sendiri”
GUNUNGKIDUL – SENIN PAHING, Diduga kehilangan kendali, sepasang suami istri lanjut usia alami kecelakaan tunggal…
NGLIPAR - SENIN PAHING, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…
GUNUNGKIDUL-SENIN KLIWON, Persoalan tata kelola pendapatan sektor pariwisata khususnya wisata pantai di Kabupaten Gunungkidul, masih…
TANJUNGSARI - SENIN KLIWON, Rumah milik Karim (71) warga Padukuhan Panggang 02/10, Kalurahan Kemiri, Kapanewon…
YOGYAKARTA-SENIN KLIWON, Lintas generasi alumni Universitas Janabadra (UJB) Yogyakarta menggelar acara halalbihalal nasional di Swiss-Belresidences…
YOGYAKARTA - MINGGU WAGE, warga Dusun Tiyasan, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, provinsi DIY…