GUNUNGKIDUL BERADA DI SEGITIGA EMAS SEJARAH

451

WONOSARI-SABTU KLIWON | Salah satu media online Gunungkidul menulis bahwa Raden Mas Tumenggung Pontjo Dirdjo merupakan Bupati terakhir Kabupaten Pati yang berkedudukan di Ponjong sekaligus Bupati pertama Gunungkidul yang bermarkas di Wonosari. Sosok yang melantik pontjodirjo hingga 2021 masih belum ditemukan.

Dalam sejarah berdirinya Kabupaten Gunungkidul, menurut kerabat Keraton Yogyakarta, Raden Mas Kukuh Hertriasning Gunungkidul punya tokoh dwitunggal, yang satu Raden Mas Tumenggung Pontjo Dirdjo, yang lain Ki Demang Wono Pawiro.

Tokoh yang kedua meninggalkan jejak fisik Joglo Cikatan yang dibangun oleh Bagus Damar sekitar tahun 1750, lima tahun sebelum Perjanjian Giyanti 13 Februari 1755.

Joglo Cikatan pernah diituturkan oleh Basuki Wibowo Raharjo yang mengaku sebagai keturunan ke-6 Demang Wono Pawiro.

Dia bilang, Ki Bagus Damar merupakan nama lain Wono Pawiro sebelum mendapatkan gelar Demang dari Kasultanan Ngayogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono Ke-1. Benarkah Ki Demang Wono Pawiro hidup sezaman dengan Sri Sultan Hamengku Buwono Ke-1?

Pada saat mendirikan Joglo Cikatanz usia Ki Bagus Damar tidak disebutkan, tetapi bisa diduga paling tidak dia berumur di atas 20 tahun.

Terkait dengan pelantikan Bupati Pertama Gunungkidul Pontjo Dirdjo 1831, rentang waktu dari 1750 ke 1831 selisihnya 81 tahun.

Benarkah pada pelantikan Bupati tahun 1831 itu Ki Demang Wono Pawiro sudah berusia 101 tahun. Ini pekerjaan rumah yang harus dicari oleh para peneliti dan pemerhati sejarah.

Ki Demang Wono Pawiro atau Bagus Damar dengan Pontjo Dirdjo, kesepadanan umurnya menarik diungkap, dengan merujuk pernyataan Gusti Aning bahwa di Gunungkidul ada tokoh dua serangkai, meski tidak seperti Soekarno-Hatta.

Sisi lain, jika benar bahwa Demang Wono Pawiro adalah prajurit setia Sri Sultan Hamengku Buwono Ke-1, maka masa hidupnya paling tidak paralel dengan HB 1 yang lahir 6 Agustus 1717 wafat 24 Maret 1792, yang masa pemerintahannya 17 tahun sejak 1755 hingga 1792.

Mulai terkuak, Sri Sultan Hamengku Buwono ke-1 wafat tahun 1792. Jadi dapat dipastikan bahwa pelantikan Raden Tumenggung Pontjo Dirjo tidak terjadi pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono ke-1.

Pelantikan Pontjo Dirdjo pasti tidak terjadi pada masa Pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono Ke-2. Alasan historis, bahwa penggantinya yakni Sri Sultan Hamengku Buwono ke-2 lahir 7 Maret 1750 kemudian mangkat pada 3 Januari tahun 1828.

Sri Sultan Hamengku Buwono ke-2 memerintah selama tiga periode, yaitu 1792 – 1810, 1811 – 1812, dan 1826 – 1828, sementara penobatan Bupati Pontjo Dirdjo 27 Mei 1831.

HB 2 diganti HB 3, tetapi 3 November 1814 (19 Dulkangidah 1741), Sri Sultan Hamengku Buwono Ke-3 wafat pada usia 45 tahun dan masa pemerintahannya berumur 865 hari.

Sebenarnya, tahta yang dipegang HB 3 itu milik Sri Sultan Hamengku Buwono Ke-4 yang lahir dari permaisuri Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hageng yang diangkat 9 November 1814 ketika dia berusia 10 tahun.

Sri Sultan Hamengku Buwono Ke-4 meninggal 16 Desember 1823 pada usia 19 tahun.

Kemungkinan besar pada saat Keraton Yogyakarta berada di tangan Sri Sultan Hamengku Buwono ke-5 RM Pontjo Dirdjo dilantik. Inilah yang perlu dicari bukti pendukung, karena pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono ke-5, yang lahir 24 Januari 1820 lahir, meninggal 5 Juni 1855 itu dalam pendampingan Sultan Sepuh.

Melacak hari jadi kabupaten Gunungkidul mestinya di samping kerajaan Majapahit sebagai latar belakang, induknya adalah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat tanpa melupakan Kasunanan Surakarta. Pada segitiga emas sejarah itulah Gunungkidul akan ditemukan. (Bambang Widayadi)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.