PEMILIK MODAL MAKAN JENANG DODOL, RAKYAT KECIL HANYA MINUM CENDOL

960

SECARA politik Indonesia merdeka sejak tahun 1945, tetapi secara ekonomi dan teknologi penjajahan di bumi Indonesia terus berlangsung.

Pembangunan jalan jalur lintas selatan (JJLS) yang dielu-elukan publik itu tidak lebih dari copy paste strategi VOC pada saat membangun rel kereta api yang memicu perang Diponegoro.

JJLS secara tersembunyi untuk keperluan monopoli dagang atau dalam hal mengeruk jenang dodol alias potensi ekonomi Kabupaten Gunungkidul.

Sepuluh, 20 atau 30 tahun ke depan, yang memanfaatkan JJLS mayoritas adalah para pemilik modal untuk keperluan mengangkut isi perut Kabupaten Gunungkidul.

Hari ini tidak ada kesadaran seperti itu karena paradigma berfikir sebagian warga Gunungkidul terlalu endek dan materialistik, hanya terfokus pada kebutuhan ekonomi sesaat.

Gejala mengarah ke terjadinya peristiwa pengerukan besar-besaran terhadap isi perut bumi Gunungkidul sudah berlangsung sejak lama dan ada di depan mata.

Kebijakan mengundang investor sebanyak-banyaknya adalah bukti otentik bahwa Gunungkidul akan dibawa menuju ke titik tertentu, dan saat ini sudah banyak contoh.

Sejumlah pemilik modal sudah berani mengeksploitasi pantai Gunungkidul secara besar-besaran meski perizinannya tidak lengkap atau bahkan tidak ada sama sekali.

Di bidang pariwisata misalnya, pemerintah sementara ini tidak mendapat bagian uang sepeserpun, kecuali terbatas pada penjualan karcis portal dan karcis parkir.

Cepat atau lambat pasti akan terjadi, bahwa para pemilik modal mendapat jenang dodol yang legit dan manis, tetapi warga setempat hanya menjadi tukang cendol. (Bambang Widayadi)




One thought on “PEMILIK MODAL MAKAN JENANG DODOL, RAKYAT KECIL HANYA MINUM CENDOL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.