PEMERINTAHAN

Gunungkidul Surplus Beras, Tetapi Indonesia Tetap Impor

ADA hal menarik, bahwa tahun 1984 jumlah penduduk Indonesia 164 juta jiwa, sementara berdasarkan Sensus Penduduk (SP 2020) pada September 2020, jumlah berubah mencapai 270,20 juta jiwa. Indonesia pernah swasembada beras tetapi sekarang menjadi pengimpor beras terbesar di dunia.

Pada periode 1985, petani Indonesia diapresiasi FAO Badan Pangan dan Pertanian Dunia, karena di bawah Presiden Soeharto mereka secara bergotong royong berhasil menyumbang gabah ke Afrika sebesar 100.000 ton yang penduduknya diancam kelaparan.

Berdasarkan data Pusat Badan Statistik produksi beras tahun 2021 naik 1,2% atau 31,69 juta ton dibandingkan tahun 2020.

Produksi beras tahun 1984 menurut catatan Presiden Soeharto ketika berpidato di depan sidang umum PBB 14 November 2975 cukup mencengangkan dunia.

“Begitulah, jika dalam tahun 1969 produksi beras kita hanya mencapai 12,2 juta ton maka dalam tahun 1984 produksi beras kita mencapai lebih dari 25,8 juta ton,” tulis Suharto dalam buku otobiografi halaman 3 alinea 6.

Menyimak tahun 2021 ada selisih kenaikan produksi beras sebesar 5,89 juta ton selama 36 tahun. Kenaikan rata-rata per tahun sebesar 0,16 juta ton.

Tahun 1984 dibanding tahun 1969 ada kenaikan sebesar 13,6 juta ton. Kala itu Indonesia diakui dunia menjadi negara swasembada beras.

Sekarang, tahun 2022, Indonesia di bawah Presiden Joko Widodo ( Jokowi) dijuluki negara pengimpor beras terbesar di dunia.

“Mengapa,” demikian pengamat Joko Priyatmo (Jepe) mempertanyakan kecenderungan ekspor beras cepat berbalik ke impor beras.

Menurut Jepe, dalam hal memproduksi beras Indonesia tidak melanjutkan intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian seperti inmas dan bimmas sebagaimana dilakukan oleh Presiden Soeharto tempo hari.

Termasuk tidak mengendalikan pertambahan penduduk secara serius dalam hal ini Keluarga Berencana sebagaimana dilakukan pemerintahan sebelum orde reformasi.

Padahal diketahui bahwa pertumbuhan penduduk itu selalu menurut deret ukur sementara pertumbuhan pangan hanya menurut deret hitung.

“Jika tidak dilakukan perubahan strategi pembangunan pangan, siapapun presidennya, tahun 2024 dan seterunya, Indonesia masih akan tetap menjadi negara pengimpor beras terbesar di dunia,” ujar Jepe, 29-1-2022.

Politik anggaran pangan, ditarik ke Gunungkidul porsinya sangat kecil. Tahun 2020 Dinas Pertanian Pangan Gunungkidul hanya dijatah Rp 629.869.000,00 dan terserap Rp 593.771.900,00 dikutip dari LKPJ Bupati 2020 halaman 13.

Tahun 2020 produksi beras Gunungkidul dinyatakan surplus 163.000 ton karena produksi beras tergolong tertinggi di DIY. Meski demikian tidak berpengaruh pada level nasional. (Bambang Wahyu)

infogunungkidul

Recent Posts

Polres Gunungkidul akan Usut Tuntas Kasus Dugaan Penganiayaan Brutal Terhadap Seorang Remaja di Wonosari

GUNUNGKIDUL - KAMIS LEGI, Kasus dugaan penganiayaan dan pengeroyokan yang tergolong brutal bahkan sadis terhadap…

1 hari ago

Remaja di Gunungkidul Dikeroyok, Disiram Miras, Luka Dilumuri Garam

WONOSARI – RABU KLIWON, Seorang remaja di Gunungkidul, menjadi korban penganiayaan dan pengeroyokan brutal oleh…

2 hari ago

Kliwon Ditemukan Selamat di Hutan Sanglor

GUNUNGKIDUL - SABTU LEGI , SEORANG Lansia berhasil ditemukan tim SAR Gabungan dengan selamat setelah…

6 hari ago

Seorang Pria ODGJ Ditemukan Gantung Diri

GUNUNGKIDUL — RABU PON, Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) warga Kalurahan Katongan, Kapanewon Nglipar, Kabupaten…

1 minggu ago

Kecelakaan Beruntun, Seorang Pemotor Meninggal Dunia

GUNUNGKIDUL – SELASA KLIWON, Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan satu unit mobil dan dua sepeda…

2 minggu ago

Melintas di Bokong Semar, Truk Tronton Terguling

BANTUL - SENIN PAHING, Sebuah truk tronton terguling di Jalan Wonosari kawasan tikungan Bokong Semar,…

4 minggu ago