PRESIDEN Joko Widodo postur tubuhnya sangat kurus, tetapi kabinetnya super gemuk. Pada periode kedua kekuasaanya Jokowi melakukan perombakan kabinet dua kali. Patut diduga hal itu dilakukan karena sarat kepentingan politik.
Mengutip analisa jurnalis Kompas TV Aiman Witjaksono, hampir dipastikan bahwa yang tidak masuk kabinet Indonesia Maju Jilid 2 hanya partai Demokrat dan PKS.
Perombakan kabinet alias resufle itu pasti hanya dipikir oleh Presiden Jokowi sendirian. Meski ada Ma’ruf Amin sebagai Wakil Presiden secara konstitusional tidak ada ruang untuk memberi masukan.
Dalam pembentukan kabinet Presiden Jokowi memiliki hak prerogatif menunjuk dan memilih siapa yang patut membatu dirinya dalam memimpin pemerintahan.
Mengapa ada hak istimewa seperti itu, rujukkannya adalah Pasal 17 undang-Undang Dasar 1945, bahwa Presiden dibantu oleh menteri-menteri negara yang diangkat dan diberhentikan oleh presiden.
Hiruk pikuk nama yang bakal masuk ke Kabinet Indonesia Maju Jilid 2 tidak begitu penting. Rasanya ada agenda utans di sebalik perombakan kabinet kali ini.
Pertama, yang penting terkait pemilu 2024 Jokowi aman di antara tanda kutip. Artinya, dia ingin tiga periode, meski konstitusi tidak memungkinkan.
Kedua, Jokowi ingin penggantinya didukung oleh koalisi besar, demi menyelamatkan nama baik selama memegang kekuasaan 10 tahun.
Ketiga, tidak kalah penting dari kedua hal tersebut adalah untuk memuluskan agenda pemindahan ibukota negara ke Kalimantan Timur.
Siapa yang paling diuntungkan ketika Kalimantan Timur menjadi ibukota negara tidak ada lain kecuali Tiongkok. (Bambang Widayadi)













