Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul Paling Bontot

1751

WONOSARI-JUMAT PON | Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indikator penting untuk mengukur keberhasilan pembangunan kualitas hidup masyarakat. Cakupannya meliputi tiga dimensi dasar: 1. umur panjang dan sehat, 2. pengetahuan, dan 3. standar hidup layak. Untuk lingkup DIY, Kabupaten Gunungkidul IPMnya ada di posisi juru kunci.

Begitu data yang disajikan Rintang Awan Eltribakti Umbas S. Si M. Si. Kepala BPS Gunungkidul, saat dihubungi media, 6-1–22.

“IPM merupakan indikator yang menggambarkan pembangunan manusia dari 3 aspek: 1. umur panjang dan hidup sehat (didekati dengan angka harapan hidup), 2. pengetahuan (didekati dengan rata-rata lama sekolah dan harapan lama sekolah), dan 3. standar hidup layak (didekati dengan pengeluaran per kapita yang sudah distandarkan dengan paritas daya beli),” ujarnya 7-1-22.

IPM tertinggi dipegang Kota Yogyakarta 87,18, disusul Sleman 84,0, Bantul 80,8, Kulonprogo 74,71 sementara Kabupaten Gunungkidul berada pada posisi 70,16.

Rintang Awan Eltribakti Umbas S. Si M. Si. menjelaskan, penyebab rendahnya IPM Gunungkidul di antaranya pengeluaran rumah tangga sebagai sumber produksi pendapatan keluarga tidak setinggi kabupaten / kota.

Dari sisi pendidikan, banyak penduduk lansia yang sudah tidak ingin bersekolah meskipun difasilitasi dengan paket A, B dan C.

Bahkan untuk pendidikan tinggi, pemuda Gunungkidul lebih milih ke UGM atau UNY, atau perguruan tinggi lain yang di Kota atau di Sleman” tegasnya.

Di luar IPM Rintang Awan menyatakan bahwa Gunungkidul dalam angka disusun dan segera publikasi oleh BPS. Isinya merupakan gabungan dari data BPS dan data statistik sektoral yang diperoleh dari Organisasi Perangkat Daerah di lingkungan kabupaten Gunungkidul.

Diminta menjelaskan sumbangan pruduk domestik regional bruto (PDRB) seluruh sektor dia bilang akan segera dirilis akhir Februari 2022. (Bambang Wahyu)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.