INDONESIAKU DALAM BENCANA KELAPARAN DAN KETAKUTAN

1640

WONOSARI, RABU KLIWON-Allah SWT membuat perumpamaan sederhana. Sebuah negeri, Allah gambarkan aman dan tenteram. Rezeki melimpah ruah di segala penjuru. Sementara penduduknya mengingkari nikmat yang dikaruniakan. Oleh sebab itu Allah menurunkan dua bencana, kelaparan dan ketakutan.

Perumpamaan tersebut terlihat begitu jelas berada di depan mata. Indonesia rupanya seperti negeri yang diciptakan dalam posisi serba melimpah. Dari Sabang hingga Meraoke, tersimpan kekayaan. Karena ijinNya, mau dimakan hingga akhir zaman pun tidak akan habis.

Persoalannya menjadi berbeda ketika penduduknya, terutama sekelompok orang  mengingkari nikmat yang disebar merata ke seluruh tanah air.

Kekayaan alam Indonesia hanya dinikmati oleh kelompok tertentu. Secara kuantitatif tidak terlihat, tetapi rasa keadilan mengarah pada ketimpangan sosial, bahkan orang luar pun nimbrung menyerobot ikut ulet-uletan menjarah kekayaan.

Indikator bencana kelaparan mulai terasa. Import bahan pangan terus dilakukan. Alam Indonesia yang kondang subur justru dipandang impoten dalam menyediakan berbagai jenis kebutuhan sembilan bahan pokok.

Dalam kaitannya dengan kedudukan, sekelompok elit takut kehilangan muka,  takut kehilangan kekuasaan. Mereka cemas terhadap sesuatu yang sesungguhnya tidak perlu dicemaskan.

Tahun 2019, ketakutan itu makin terang benderang, dan manusia Indonesia terbelah menjadi dua bagian, yang satu sama lain saling berhadapan.

Tidak disadari, bahwa ketakutan yang bercokol di kubu masing-masing sangat tidak masuk di akal. Mereka takut miskin, takut tidak memperoleh bagian.

Ujung dari ketakutan itu akan segera berbuah. Siapa pun yang memenangkan perebutan kekuasaan sesuai aturan yang diberi label demokrasi, akan segera menghadapi bencana yang lebih besar.

Pertama bencana kebiasaan memperbesar hutang guna membiayai rehap rekon paska gempa NTB, Donggala – Palu, serta Anyer.

Kedua, tidak tertutup kemungkinan bencana susulan akan dikirim dari langit, karena banyak gejala menunjukkan kekufuran dan kesombongan tingkat tinggi.

Saat terjadi gempa NTB, sebagian orang mengatakan, semoga NTB adalah musibah yang terakhir. Berkata begitu pula, ketika terjadi gempa Donggala – Palu. Tidak pernah terpikir, bahwa anak Krakatau bisa erupsi dan mengirim tsunami ke Selat Sunda.

Nada-nadanya, irama  bencana berjalan mendekati pusat kekuasaan. Tidak jauh dari Jakarta ada anak Gunung Krakatau. Meletus, itu sangat mungkin terjadi karena ijin Allah SWT.

Diperingatkan di dalam Al Hadid 22, bahwa setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfus) sebelum Kami (Allah) mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu mudah Bagi Allah.

Doa agar diselamatkan dari bencana kelaparan di negeri yang subur makmur dan ketakutan, oleh sebab itu harus hanya ditujukan kepada Tuhan Sang Pemilik Hari Pembalasan.

Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai, dan bukan pula jalan orang-rang yang sesat.

Bambang Wahyu Widayadi




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.