Inovasi Sederhana: Ketela Pohong Berbuah Susun Tiga

1232

WONOSARI-JUMAT PAHING | Gunungkidul dikenal sebagai kota gaplek karena produk ketela pohong atau ubi kayu cukup melimpah.

Dalam buku Informasi Pembangunan yang diterbitkan 2019, tahun 2018 produksi ketela mencapai 784.493 ton, dengan rata-rata produksi 172,99 kg per Ha, dari luas lahan 45.350 Ha.

Dengan luas lahan yang sama yakni 45.350 Ha, produksi ketela di Gunungkidul, sesungguhnya bisa dinaikkan.

Ir. Bambang Wisnu Broto, Kepala Dinas Pertanian Pangan Kabupaten Gunungkiful, kepada awak media memaparkan fakta kenaikan produk ketela pohong tahun 2020.

Kadinas Pertanian Pangan memaparkan, bahwa tahun 2019, luas panen ketela pohong tercatat 45.816 hektare, sementara tahun 2020 luas panen turun 43.855 hektare.

“Tetapi produktifitas per hektare naik sangat drastis. Tahun 2019 baru mencapai 138,19 ton per hektare, tahun 2020 melonjak menjadi 228,4 ton per hektare,” kata Bambang Wisnu Broto, di kantornya 25/11/20.

Produksi ketela tahun 2019 tercatat 719.215 ribu ton, sementara di tahun 2020, menurut data Dinas Pertanian Pangan 1.001.629 ton.

“Kenaikan produksi ketela basah tercatat mencapai 139 prosen,” tegas Bambang Wisnu Broto.

Menurut dia, kenaikan produksi ketela di Gunungkidul itu disebabkan banyak faktor. Satu di antaranya inovasi sederhana yang dilakukan petani.

Tumiran, warga Kapanewon Patuk, kata Kadinas, melakukan terobosan sederhana. Sebelum tanam, batang ketela di bagian mata dihilangan satu hingga dua mata. Tujuannya, agar bagian yang dilukai tersebut tumbuh akar, sehingga produk ketela tidak hanya di pangkal batang.

“Saat ini, pohon ketela buahnya bersusun dua bahkan tiga. Jadi masuk akal jika produksi naik,” terang Bambang Wisnu Broto.

Produk turunan ketela, lanjut Kadinas, warga Gunungkidul mulai membuat tepung mocaf juga mie instan, di samping gatot dan thiwul. (Bambang Wahyu)

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.