WONOSARI, KAMIS LEGI-Jahtilan kolosal yang dimainkan 100 orang dari Sanggar Seni Nawangsih, Desa Pengkol, Kecamatan Nglipar manggung di lapangan Pemda Kabupaten Gunungkidul. Pentas dilakukan dalam rangka pembukaan Gelar Potensi Budaya, Rabu (17/10). Jathilan menceriterakan Sumpah Ratu Kalinyamat membuat kagum ribuan penonton.
Muryanto, S.Sos. sutradara jathilan kososal membeberkan sinopsis Sumpah Ratu Kalinyamat, Putih dan Hitam menggambarkan dua sifat manusia baik dan buruk. Tokoh Penthul dan Tembem dalam cerita itu merupakan gambaran manusia berbeda watak yang tidak pernah akur.
Perang antara Pajang dengan Jipang Panolan, menurut Muryanto, adalah perang kebaikan melawan kejahatan. Ratu Kalinyamat bersumpah, tidak akan turun dari pertapaan di Gunung Donorojo, sebelum Keramas darahnya Haryo Penangsang. Dia telah membunuh Sultan Hadirin suami Ratu.
Begitu pula Sultan Hadiwijaya, demi ketentraman Pajang, maka kejahatan Harya Penangsang harus dihentikan.
Kala itu tidak ada yang berani melawan Haryo Penangsang, maka atas usul Ki Juru Mertani, Sultan Hadiwijaya mengangkat Danang Sutawijaya sebagai Senopati perang melawan Haryo Jipang. Terkena Tombak Kanjeng Kyai Pleret, Haryo Penangsang gugur.
“Mendengar Haryo Jipang tewas, Ratu Kalinyamat turun Gunung berkeramas darah Haryo Penangsang,” kata Muryanto.
Dia mengasuh ratusan penari dan pengrawit, semua usia SMP – SMA. Dari 100 pemain tersebut, 75 penari dan 25 pengrawit.
“Ribuan penonton terpaku melihat penampilan anak-anak,” kata dia.
(Joko)






