Jenderal Itu Tidak Mau Dikubur Di Taman Makam Pahlawan

208

ANGGOTA TNI dikebumikan di taman makan pahlawan (TMP) itu sebuah kehormatan. Banyak yang berkeinginan, tetapi ada juga yang memilih membuat makam keluarga dengan alasan tertentu.

Sepanjang sejarah, di Indonesia hal itu terjadi. Jendral (purnawirawan) Soeharto, Presiden Ke-2 RI memilih peristirahatan terakhir di Astana Giribangun yang disiapkan oleh Yayasan Mangadeg.

Dalam otobiografi yang dituturkan G Dwipayana bersama Ramadhan KH HM tokoh sentral Orde Baru itu bilang cukup gamblang.

“Kalau ajal saya sampai, maka mengenai diri saya, selanjutnya sudah saya tetapkan, saya serahkan kepada istri saya,” Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, halaman 561.

Raden Ayu Hj. Siti Hartinah yang lebih dikenal dengan sebutan Ibu Tien Soeharto, disebutkan Soeharto bahwa menyandang Bintang Gerilya dan Bintang RI. Oleh sebab itu punya hak dimakamkan di TMP, tetapi sebagai Ketua Yayasan Mangadeg, dia menentukan Astana Giribangun sebagai malam keluarga Presiden..

HM Soeharto yang sukses memimpin Serangan Oemoem SO 1 Maret itu pun menuruti kemauan istrinya. Jendral penumpas PKI itu rela tidak dimakamkan di TMP.

Di samping itu ada alasan pribadi yang lebih kuat, bahwa makam Astana Giribangun adalah tempat Sieharto – Siti Hartinah bersatu.

“Masak ‘kan saya akan pisah dengan istri saya,” kata Soeharto.

Alasan lain Astana Giribangun yang tingginya sekitar 666 meter di atas permukaan laut itu juga untuk memuliakan ayah ibu mertua.

Selebihnya, ujar Soeharto, “Kami tidak mau menyusahkan anak cucu kami, jika mereka nanti mau berziarah.”

(Bambang Wahyu)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.