CEBONG, KAMPRET DAN KADRUN BAGIAN DARI KEBUDAYAAN TAK SENONOH

176

PROFESOR Doktor Cornelis Anthonie Van Puersen intelektual berkebangsaan Belanda dalam buku Strategi Kebudayaan menggambarkan, bila malam hawanya dingin, maka di pagi hari kaca mobil penuh dengan embun. Bila manusia bergerak di bumi, maka tak lama kemudian muncullah gejala kebudayaan.

Van Puersen yang Guru Besar pada Universitas Negeri di Utrecht itu kemudian berkesimpulan, bahwa kebudayaan merupakan endapan kegiatan dan karya manusia.

Kepesatan teknologi komunikasi merupakan bagian dari karya besar manusia yang kemudian melahirkan tingkah laku positif dan negatif. Kedua perilaku tersebut bisa disebut sebagai kebudayaan.

Sebagian pemerhati kebudayaan menyebutkan, jika laju pembangunan melahirkan budak teknologi yang kemudian berperilaku buruk dan tak senonoh itu sangat sulit untuk dihindari.

Tentang perilaku buruk karena kemajuan teknologi komunikasi, sejatinya merupakan bentuk pengulangan tabiat manusia yang tidak terkontrol dan terkendali, itu sudah ada sejak era jahiliyah, ribuan tahun silam.

Pada awal Rasulullah menyebarkan agama Islam, bangsa Arab punya kebiasaan aneh. Orang Arab kala itu punya nama panggilan lebih dari satu. Bisa dua, tiga, empat, bahkan lebih.

Jejak sejarah menunjukkan, ketika tiba di Madinah, Rasulullah Saw. memanggil seseorang dengan sebutan yang disandang.

Satu di antara sahabat memberi informasi, Ya Rasulullah, nama yang Anda sebutkan itu sesungguhnya tidak disukai oleh orang yang Anda panggil.

Dii Indonesia nama panggilan yang buruk itu terjadi. Seperti publik ketahui seseorang atau bahkan kelompok dipanggil cebong, kampret, kadrun, dan lain sebagainya.

Panggilan itu sejatinya tidak senonoh. Yang memanggil merasa nyaman tak bersalah, tetapi yang dipanggil sangat tidak menyukai, karena panggilan tersebut bernada menghina dan merendahkan.

Dalam Al-Hujarat ayat 11 oleh sebab itu Rasulullah Saw. diperingatkan, “Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik).”

Pada saat Nabi Saw. sampai di Madinah, setiap laki-laki dari Bani Salamah pasti memiliki dua atau tiga nama panggilan.

Suatu ketika, Nabi Saw. memanggil salah seorang dengan panggilan tertentu. Satu di antara Bani Salamah bilang, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ia marah dengan panggilan tersebut.”

Itu sebabnya, tidak lama kemudian, turunlah ayat 11 Al-Hujarat. Dan berikutnya berlaku ketentuan, memanggil teman dengan panggilan yang buruk, dan tidak bertobat, termasuk tidak meminta maaf maka dia (si pemanggil) termasuk orang zalim.

Dalam konteks kebudayaan, Indonesia ke depan, dalam menyongsong Pemilu Serentak Rabu 14-2-2024, semoga bersih dari budaya tak senonoh, menyebut sekelompok orang dengan cebong, kampret dan kadrun.

(Bambang Wahyu)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.