Kelompok Wanita Tani Yang Diperhatikan Dinas Pertanian dan Pangan Sangat Sedikit

1328

GUNUNGKIDUL-RABU PON | Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Ir. Luh Gde Suastini menyatakan, Kelompok Wanita Tani (KWT) yang dibina belum banyak. Hingga tahun 2022 baru 7 KWT kategori Pekarangan Pangan Lestari (P2L) Sementara jumlah Kalurahan 144 dan 1.431 Padukuhan. Pelaku KWT meminta pembinaan itu merata, supaya keadilan sosial bagi seluruh rakyat GunungkIdul tercapai.

“Anggota tiap KWT jumlahnya 20 sampai dengan 30 orang,” tulis Ir. Luh Gde Suastini melalui aplikasi WhatsApp, 19-10-2022.

KWT yang dibina Dinas Pertanian Pangan, lanjut Luh Gde syaratnya mengajukan proposal, disurvey dan harus memenuhi ketetapan kriteria penerima bantuan sesuai juknis program.

Jika KWT tidak bisa membuat, menurut Luh Gde Suastini dapat minta tolong PPL Pendamping masing2 Kalurahan, karena kelompok sudah punya regester dan terdaftar di aplikasi simluhtan.

Dijelaskan secara rinci, bantuan itu sebesar Rp 15.000.000 per KWT. Tujuh kelompok yang telah menerima bantuan antara lain: 1. KWT Duwet, Jeruk Wudel, Girisubo; 2. KWT Khusnul khatimah, Sambeng, Ngalang, Gedangsari; 3. Berkah Wanita, Banjardowo, Gedangrejo, Karangmojo; 4. Sentul Sari, Sambeng 2, Sambirejo, Ngawen; 5. Ngudi Lestari, Kepek, Saptosari; 6. Rejeki Laris, Prau, Girimulyo, Panggang: dan 7. KWT Ngudi Rejeki, Duwet, Karangwuni, Kapanewon Rongkop.

Kegiatan KWT yang belum ditangani Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, “Menurut saya memang seharusnya masyarakat sendiri yang bergerak, tidak harus menunggu kalau ada bantuan. Tentunya itu akan mempunyai nilai plus tersendiri,” ulas Luh Gde Suastini.

Sesungguhnya bukan soal bantuan, tetapi masalah pembinaan. Masyarakat berharap, Dinas Pertanian tidak terpaku pada proposal. Artinya, KWT yang tidak mengajukan proposal, lalu oleh dinas dibiarkan tidak dibina.

Menurut sebagian besar tokoh KWT, stimulan bantuan 15 juta rupiah tidak begitu penting,” yang prinsip, pembinaan merata di seluruh Desa, syukur sampai Padukuhan,” pinta mereka.

(Bambang Wahyu)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.