Kembangkan Wisata Kampung Emas, UST Sarasehan Pengabdian Masyarakat

3858

PERTUMBUHAN usaha wisata sangat dipengaruhi oleh terpenuhinya harapan pengunjung wisata akan kualitas produk. Untuk itu, peningkatan kualitas produk perlu dilakukan oleh Desa Wisata “Kampung Emas”.

Desa Wisata “Kampung Emas” sebagai salah satu destinasi wisata yang menawarkan produk kuliner tradisional berupa “Ingkung Ayam” perlu melakukan upaya pengendalian kualitas produk kuliner salah satunya menyangkut aspek lingkungan.

Kegiatan Sarasehan Pengembangan Desa Wisata Kampung Emas oleh Tim Pengabdian Masyarakat diadakan oleh Tim Dosen Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa (UST) Yogyakarta, melibatkan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kalurahan Putat, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul. “Putat Mandiri” diadakan di Joglo Kampung Emas Kalurahan Putat, Kapanewon Patuk Kabupaten Gunungkidul, Sabtu (12/8/2023).

Kegiatan yang dilakukan dalam rangka melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi sebagai program internal Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UST diikuti oleh puluhan peserta Pokdarwis “Putat Mandiri”, Pengelola Pokja Pokdarwis Kampung Emas, Mitra Pokdarwis “Putat Mandiri” dan Mitra Pokja Kampung Emas Kalurahan Putat Kapanewon Patuk Kabupaten Gunungkidul.

Ketua Pokdarwis “Putat Mandiri” Kalurahan Putat Kapanewon Patuk Kabupaten Gunungkidul, Sutarto dalam  sambutannya menuturkan bahwa salah satu layanan produk usaha wisata Kampung Emas adalah sajian kuliner tradisional “Ingkung Ayam”.

Namun demikian, Sutarto berujar,  usaha Desa Wisata Kampung Emas juga dipadukan dengan konsep eduwisata.

“Permintaan layanannya olahan kulinernya berupa paket “Ingkung Ayam”  lumayan pesat. Namun tentu saja kendala pasti ada. Saat ini, kualitas produk dan layanannya perlu dikembangkan terus menerus agar lebih memberikan manfaat bagi masyarakat setempat,” ungkapnya.

Sementara itu, Syamsul Ma’arif ST MT selaku Tim Dosen Pengabdi UST dalam pemaparannya menjelaskan bahwa pengembangan usaha wisata Kampung Emas ini sangatlah strategis untuk memperhatikan kualitas layanan khususnya produk kulinernya yakni “Ingkung Ayam.

“Peningkatan kualitas ini terkait dengan produktivitasnya. Produktivitas tersebut terkait waktu dalam memasak ingkung mengacu pada efisiensi dalam mengelola waktu selama proses memasak. Perencanaan yang baik, penggunaan teknik masak yang tepat dan koordinasi yang efisien, maka dapat mempersingkat durasi memasak olahan tanpa mengorbankan kualitas rasa dan tampilan,” terangnya.

Memasak Ingkung ayam, lebih lanjut Syamsul Ma’arif menuturkan, bahwa sebagai hidangan tradisional yang khas biasanya melibatkan proses memasak yang memakan waktu cukup lama.

Akan tetapi dengan penerapan kompor biomasa yang efisien, proses memasak olahan tersebut dapat mengalami peningkatan efisiensi waktu yang signifikan.

“Kompor biomassa menggunakan bahan-bahan dan sumber energi yang ramah lingkungan,“ ucap Syamsul yang juga Ketua Tim Pengabdi.

Di tempat yang sama Kusmendar, ST MT salah satu anggota Tim Dosen Pengabdi UST menegaskan bahwa optimalisasi usaha wisata kuliner “Kampung Emas” dapat dilakukan selain melalui pengunaan sumber daya alam dan energi yang efisien serta ramah lingkungan.

“Seperti halnya pengelolaan limbah secara baik terutama sampah lingkungan sekitar lokasi wisata dapat dilakukan dengan teknologi komposter cepat,” terang Kusmendar memberikan contoh.

Teknologi komposter cepat, Kusmendar berteori, merupakan sebuah sistem penguraian sampah organik yang menggunakan metode dan teknologi khusus untuk meningkatkan kecepatan dan efisiensi dekomposisi sampah organik menjadi kompos dengan  melibatkan penggunaan mikroorganisme tertentu, pengaturan suhu, kelembaban, dan ventilasi yang tepat untuk menciptakan kondisi yang optimal bagi mikroorganisme.

“Dengan mengurangi sampah organik yang tidak terkelola dengan baik, pengelolaan sampah organik yang berkelanjutan dapat mengurangi risiko kesehatan masyarakat yang disebabkan oleh pencemaran dan penyegaran penyakit,” jelas Kusmendar dosen sekaligus alumni UST.

Kegiatan ditutup dengan pemaparan tentang pengendalian risiko kerja dalam pembuatan “Ingkung Ayam” sebagai usaha desa wisata

Dalam aspek Ergonomi oleh Dian Tiara Rezalti ST MSc berpendapat , bahwa Penerapan Ergonomi dalam pembuatan “Ingkung Ayam” diperlukan untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat, aman serta nyaman melalui desain posisi kerja yang cermat, alat bantu efisien, dan peralatan ergonomis.

 

Penulis : Esti Dwi Pujianingsih (Mahasiswa UST)

 

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.