Penurunan Stunting Pemkab Kembali akan Tangani Secara Serius

124

WONOSARI-JUMAT KLIWON | Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) mendeklarasikan Gerakan Penurunan Stunting Jumat, (16/10/2020).

Bupati Gunungkidul Badingah S.sos mengakui angka kasus Stunting di Gunungkidul kini masih tergolong tinggi. Hal tersebut menjadi alasan Gunungkidul dijadikan lokasi fokus (lokus) penanganan Stunting oleh pemerintah pusat pada tahun 2020.

“Bahkan masih banyak kasus bayi yang lahir dengan berat badan rendah karena memang kurang asupan gizi sejak dalam kandungan,” kata Badingah, Jum’at (16/10/2020) di Bangsal Sewokoprojo.

Badingah mengatakan, pihaknya telah melakukan berbagai upaya strategis guna menekan angka kasus stunting, yang telah disusun sejak awal tahun 2020 lalu.

Namun demikian, diungkapkan Badingah, lantaran adanya pandemi Covid-19 yang terjadi di awal tahun lalu, sehingga perhatian masih terfokus pada penanganan kesehatan.

“Alhasil, upaya menekan Stunting yang sudah dilakukan pun dianggap belum maksimal, dan perhatian kita saat ini terbagi dengan prioritas percepatan penanganan Covid-19, yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir,” ujarnya.

Dikatakannya lebih lanjut, melalui deklarasi ini, upaya-upaya strategis penanganan Stunting perlu digerakkan kembali.

Sebab penanganan Stunting, Badingah menyatakan, erat kaitannya dengan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Gunungkidul.

Selain itu, menurutnya, memang perlu ada intervensi dan integrasi penanganan Stunting yang melibatkan berbagai sektor.

“Saya sangat berharap ada keterlibatan lembaga swasta dan masyarakat dalam upaya tersebut. Sebisa mungkin kita upayakan di akhir 2020 ini kasus Stunting bisa ditekan serendah mungkin,” jelasnya.

Sementar itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gunungkidul Dewi Irawaty mengatakan, pada tahun 2019 lalu angka Stunting di wilayah Gunungkidul mencapai 17,94 persen.

Angka ini, menurutnya, turun dibandingkan pada 2018, di mana kasus Stunting di Gunungkidul masih kisaran 18,2 persen.

Namun demikian, Dewi berujar, angka 17,94 persen ini masih lebih baik dibandingkan rata-rata angka kasus Stunting di Indonesia.

“Kami optimis bisa menekan angka kasus Stunting menjadi satu digit. Perlu ada intervensi holistik dan integrasi antara intervensi spesifik dan intervensi sensitif dalam penanganan Stunting,” ucap Dewi Irawaty. (Hery)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.