KOMUNIKASI DI MEDIA SOSIAL POTENSI SALAH PAHAM SANGAT BESAR

357

WONOSARI, SELASA PAHING – Untuk sementara, penemuan aplikasi teknologi komunikasi tidak membuat manusia semakin rukun, tetapi sebaliknya, malah memicu silaturahmi berubah menjadi berantakan.

Media seperti facebook, twiter, istagram dan sejenisnya adalah biang kerok pemecahbelah kerukunan, kata sebagian pemerhati.

Klaim seperti di atas, tidak sepenuhnya benar. Persoalannya, seluruh media soasial pada dasarnya hanya merupakan instrumen (alat), tidak berbeda dengan pisau dapur, pengupas kulit bawang.

Ketika pisau itu digunakan untuk membunuh, dengan alasan membela diri karena mau diperkosa majikan, tepatkah pisau tersebut dianggap salah? Analogi pisau dan media sosial, secara sederhana, kira-kira begitu.

Facebook dan media yang lain, manakala menimbulkan ketegangan dan perpecahan, yang keliru tentu adalah para pengguna, bukan medianya.

Bahasa tulis, menurut Prof. A. Theuw, sarjana berkebangsaan Belanda, sangat mudah menimbulkan gesekan. Alasannya, dalam bahasa tulis para pihak yang berkomunikasi, tidak bisa meralat secara langsun ketika terjadi kesalahpahaman.

Dua orang berkomunikasi di facebook, tiba-tiba duel ramai, bahkan cenderung saling hujat. Dalam hal ini yang salah bukan facebook, melainkan lebih menunjuk ke cara komunikasi yang dipilih.

Guna mengurangi salah paham, disarankan pengguna media sosial menulis secara hati-hati. Fonomena supra segmental (gerak tubuh, intonasi, panjang pendek penyebutan kata dan kalimat) yang ada dalam bahasa lisan, tidak hadir di dalam bahasa tulis.

Tidak sedikit orang saling hujat di media sosial, karena kemampuan mereka mengungkap pikiran melalui bahasa tulis, berada di bawah rata-rata.

Saran lain, dalam hal berkomunikasi di media sosial, gunakan bahasa tulis yang efekftif, agar tidak mudah menimbulkan salah paham. Bambang Wahyu Widayadi




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.