OPINI

KOMUNIKASI POLITIK, HARUS BELAJAR DARI GUNTING DAN RAMBUT

WONOSARI-JUMAT KLIWON-Tradisi komunikasi politik di Indonesia tidak banyak berubah. Sejak era KH. Agus Salim hingga sekarang, pola saling menyakiti masih kental terpelihara. Pola komunikasi saling menggembirakan atau menyenangkan jarang dilakukan. Pola komunikasi gunting dan rambut langka terjadi.

Diriwayatkan, bahwa KH. Agus Salim, tokoh Saerekat Islam berjanggut panjang (berjangut kambing) naik podium, dalam sebuah pertemuan terbuka.

Kaum pergerakan seperti Syahrir dan kawan-kawan yang berseberangan dengannya kompak memperdengarkan suara kambing dengan maksud mengolok-olok.

Syahrir menceriterakan, sekelompok besar pemuda, bersama-sama mendatangi rapat, tempat Pak Salim akan berpidato, dengan maksud mengacaukan pertemuan.

“Setiap kalimat yang diucapkan pak haji kami sambut dengan mengembik yang dilakukan bersama-sama,” tutur Syahrir kala itu.

Setelah ketiga kalinya pemuda menyahut, lanjut Syahrir, maka Pak Salim mengangkat tangannya.

“Tunggu sebentar. Bagi saya sungguh suatu hal yang sangat menyenangkan bahwa kambing-kambing pun telah mendatangi ruangan ini untuk mendengarkan pidato saya. Hanya sayang sekali bahwa mereka kurang mengerti bahasa manusia sehingga mereka menyela dengan cara yang kurang pantas. Jadi saya sarankan agar untuk sementara mereka sekedar makan rumput di lapangan. Sesudah pidato saya ini yang ditujukan kepada manusia selesai, mereka akan dipersilakan masuk kembali dan saya akan berpidato dalam bahasa kambing khusus untuk mereka. Karena di dalam agama Islam kambing pun ada amanatnya, dan saya menguasai banyak bahasa,” seperti dikutip http://www.panjimas.com

Pidato selanjutnya senyap, tak satu pun suara kambing diperdengarkan ulang, karena para pengembik menyadari kekeliruannya.

Peristiwa di atas contoh merupakan riil komunikasi politik yang dalam idiomatika Jawa disebut ngethok driji landhesan dhengkul, (semua serba menyakitkan).

Pada era Presiden Joko Widodo, bahkan lebih fulgar, mulai dari sertifikat ngibul, Indonesia Bubar, sampai dengan Partai Alloh dan Partai Syetan.

Celakanya Kepala Negara tidak selihai KH Agus Salim. Balasan yang disampaikan malah lebih dari fulgar. Jokowi, tidak mampu mengambil pelajaran dari komunikasi Gunting dan Rambut.

Gunting yang tajamnya pitung penyukur, mampu memotong rambut menjadi rapih, tanpa menimbulkan luka, apalagi rasa sakit. Jokowi, tidak punya kelebihan seperti itu. (Bambang Wahyu Widayadi)

infogunungkidul

Recent Posts

Kecelakaan Beruntun, Seorang Pemotor Meninggal Dunia

GUNUNGKIDUL – SELASA KLIWON, Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan satu unit mobil dan dua sepeda…

1 minggu ago

Melintas di Bokong Semar, Truk Tronton Terguling

BANTUL - SENIN PAHING, Sebuah truk tronton terguling di Jalan Wonosari kawasan tikungan Bokong Semar,…

2 minggu ago

28 Tahun Reformasi, Aktivis UJB Terbitkan Buku Sejarah Gerakan Mahasiswa Empat Dekade

JAKARTA-KAMIS PON, BERTEPATAN dengan 28 tahun jatuhnya Orde Baru, sebuah buku sejarah kolektif tentang gerakan…

3 minggu ago

“Adu Banteng” Vario Vs Supra dua Korban Dilarikan ke-RS

GUNUNGKIDUL - MINGGU WAGE, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…

3 minggu ago

Gorok Leher Sendiri, Pria Asal Gunungkidul Ditemukan Tewas

SLEMAN - JUMAT PAHING, SEORANG pria asal Kabupaten Gunungkidul yang berdomisili di Kecamatan Seyegan, Sleman,…

4 minggu ago

Waspada! Diduga Ulah Maling, 3 Warga Nglipar Kehilangan Emas dan Uang Tunai

GUNUNGKIDUL-RABU KLIWON, Dalam sepekan terakhir kasus pencurian dengan pemberatan terjadi di wilayah hukum Polsek Nglipar.…

4 minggu ago