Manusia Indonesia Hidup di Tengah Zaman Jababiro

1966

PATUK, RABU PAHING – Disarikan dari sabda Rasul SAW, bahwa romantika, dialektika dan dinamika zaman terbagi menjadi lima. Dewasa ini umat manusia berada pada tanda-tanda kehancuran bumi beserta isinya. Fenomena kemusnahan itu makin jelas, sementara sebagian besar manusia makin congkak dan tidak mempercayainya.

Drs. Mas Roir, Guru matematika SMP Negeri 3 Patuk menulis hal di atas, di dalam grup whatsapp pengajian Selasa malam (1/1/19)

Pertama, demikian Mas Roir mengawali penjelasan, zaman nubuwah atau zaman kenabian diawali dari Nabi Adam AS sampai Baginda Rasul, Nabi Muhammad SAW.

Kedua, zaman khilafah 1. Zaman ini dipimpin sahabat-sahabat Nabi, seperti Abu Bakar Umar, Utsman dan Ali ra.

Ketiga, zaman al-mulk (kerajaan), berakhir runtuhnya Dinasti Utsmani di turki.

“Kalau di Indonesia Majapahit, Sriwijaya, Demak, Mataran, dan yang lain,” kata dia .

Keempat, zaman jababiro alias zaman kebebasan. Dalam terminologi politik disebut era demokrasi. Zaman jababiro ditandai maksiat, tindak kejahatan, korupsi terjadi dimana-mana.

Fitnah bertebaran untuk melemahkan kaum Muslimin. Orang yang tidak layak, karena zalim, menjadi penguasa (pemimpin). Jumlah umat Islam sangat banyak tetapi hanya seperti buih di laut, sedikit yang mengingat Allah.

“Zaman jababiro sedang berlangsung. Kita barada di dalamnya, di penghujung zaman hampir memasuki zaman kelima yaitu zaman khilafah 2. Astaghfirullah,” ujar Mas Roir. (Agung)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.