Di dunia merasa sendirian, tidak punya siapa-siapa, merasa bukan siapa-siapa, karena merasa tidak punya apa-apa, merupakan prakondisi bunuh diri. Saat-saat seperti itu, seseorang dalam posisi batin gelisah dan galau.
“Pertanyaan sederhana, siapa yang bisa mengetahui, bahwa seseorang sedang gelisah? Mendeteksi kegalauan personal, bukan perkara mudah,” terang Jepe.
Tetapi menurutnya, bukan berarti harus menyerah pada jalan buntu. Dia merunut peristiwa 1.441 tahun silam.
Jangan dikira, tutur Jepe, bahwa Nabi Muhammad SAW tidak mengalami kondisi batin yang soliter. Suasana batin yang sendirian itu terjadi ketika selama 14 hari Malaikat Jibril tidak datang kepadanya untuk mengabarkan berita gembira berupa firman Allah SWT.
Dalam kegelisahannya Rasulullah menduga, Allah telah meninggalkan dan membencinya.
Menjawab kegalauan tersebut diturunkan Surat Ad-Duha 1 hingga 11.
“Demi waktu duha (ketika matahari naik sepenggalah), dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu,” (Ad-Duha 1, 2 dan 3.
Keterasingan, kesendirian, soliternya seseorang, atau apapun istilahnya merupakan bibit kegalauan dan kegelisahan untuk kemudian diputuskan secara emosional oleh seseorang untuk melakukan bunuh diri.
Untuk menghilangkan bibit siklon soliter, perlu adanya keikhlasan dalam menjelajah komunikasi sosial.
“Artinya, sudahkah kita berinteraksi secara lembut dan memadai di tengah perdaban yang serba keras dan panas ini,” pungkas Jepe.
Bambang Wahyu Widayadi






