MANUSIA TIDAK PUNYA ILMU UNTUK MELAWAN HOAX

1316

WONOSARI, SABTU PAHING – Seharian saya berdiskusi internal dengan mantan Ketua DPRD Gunungkidul, Budi Oetomo Prasetyo (BOP) melalui aplikasi Whatsapp. Kabar bohong merupakan topik pilihan, karena berita hoax selalu menarik perhatian banyak orang.

Para pihak yang mengaku bisa menghentikan kabar bohong adalah kabar bohong itu sendiri. Inilah topik yang saya diskusikan dengan BOP. Politisi PDIP yang kini menekuni usaha pengembang itu menyatakan, kebohongan adalah kuliner jiwa yang sangat enak dikonsumsi.

Ada pihak yang terbahak-bahak justru karena banyaknya kabar bohong. Sulit dipungkiri, menjelang Pemilu serentak 17 April 2019, kabar bohong menjadi komoditas politik.

“Itu namanya bohong-bohongan. Orang berkata bener pun bisa dianggap bohong,” ujar BOP (8/12/18).

Pada umumnya manusia tidak mengakui adanya kebenaran absolut, termasuk air mencari tempat yang rendah itu pun dianggap bukan kebenaran mutlak.

Memang manusia itu punya kuasa atas dirinya sendiri? Tentu saja tidak. Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) memberi gambaran sederhana, betapa tak kuasanya bangsa manusia atas dirinya sendiri. Cak Nun bilang, manusia tidak bisa mengatur jadwal kapan harus kencing, kapan pula harus buang air besar. Yang mengatur metabolisme itu adalah Sang Pencipta.

Ini kebenaran absolut, sementara manusia tetap memilih tidak mengakuinya. Konsekuensi logis dari ketidakpercayaan itu kabar bohong pun terus merajalela.

Pertanyaan sederhana, dari mana orang harus memulai mengurangi kabar bohong? Manusia tidak memiliki ilmu untuk itu, mereka harus bertanya kepada Sang Pemilik Ilmu. Fakta menunjukan, manusia sungkan bertanya kepada Tuhannya. Bambang Wahyu Widayadi




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.