PROYEK JJLS membuka ruang partisipasi publik, itu hanya basa-basi, supaya kelihatan demokratis. Suara rakyat tidak lebih dari “kentut” warga pengonsumsi jagung. Baunya akan ditolak oleh semua hidung.
Ihwal JJLS, semua senang, kecuali rakyat yang terdampak dan mau mikir panjang terkait proyek yang didanai dengan hutang dari Islamic Development Bank (IDB) itu.
Pertanyaannya siapa yang akan menikmati sarana infrastruktur jalan ini? Seberapa besar masyarakat Gunungkidul menerima manfaat? Sudahkah rakyat terdampak mendapat kompensasi dengan baik atas tergusurnya “rencana mereka” bukan sekedar ganti rugi atas tanah, bangunan dan tanaman diatasnya?
Untuk sekedar menyesuaikan diri dengan jalan dengan tahu desainnya saja, agar paling tidak mendapat remah-remah dari “lalulintas ekonomi” yang nantinya akan lewat “katanya“, sulitnya bukan main.
Page: 1 2
GUNUNGKIDUL – SELASA KLIWON, Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan satu unit mobil dan dua sepeda…
BANTUL - SENIN PAHING, Sebuah truk tronton terguling di Jalan Wonosari kawasan tikungan Bokong Semar,…
JAKARTA-KAMIS PON, BERTEPATAN dengan 28 tahun jatuhnya Orde Baru, sebuah buku sejarah kolektif tentang gerakan…
GUNUNGKIDUL - MINGGU WAGE, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…
SLEMAN - JUMAT PAHING, SEORANG pria asal Kabupaten Gunungkidul yang berdomisili di Kecamatan Seyegan, Sleman,…
GUNUNGKIDUL-RABU KLIWON, Dalam sepekan terakhir kasus pencurian dengan pemberatan terjadi di wilayah hukum Polsek Nglipar.…