Immawan mengaku mengerahkan lumpang dan alu potensial seperti polisi, tentara, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh wanita dan elemen ormas seperti LDII, MTA, NU, Muhammadiyah dan yang lain untuk menekan atau menahan laju angka bunuh diri di Gunungkidul. Hasilnya, belum seperti yang diharapkan banyak pihak.
“Cukup lama saya sampaikan, bahwa saya bersedia melaksankan pendapat atau nasehat orang lain kalau memang ada yang punya “resep jitu” mengatasi bunuh diri. Saya akan sowan dan saya akan rela melaksanakan “resep jitu” itu,” ujar Immawan Jum’at pagi (18/10/19) merespon kritik masyarakat tentang kekurangberhasilan SBH.
Video pilihan:
Dr. Immawan terlalu yakin bahwa berlandaskan Perbup anti bunuh diri, fenomena gantung diri bisa dieliminir. Fakta bicara lain, Suranem pencari barang bekas warga Kelor Lor, Desa Kemadang, Tanjungsari tidak menggubris adanya barisan SBH yang notabene adalah kalangan elit.
Sesungguhnya, laju kecenderungan bunuh diri bisa dihambat oleh masyarakat tingkat RT bukan oleh turis sosial bernama SBH. Ini bukan satu-satunya formula jitu seperti yang dicari Dr. Immawan Wahyudi.
Ketua RT tahu persis karakter warganya. Dia tahu jumlah balita, lansia, ibu hamil, tahu jumlah pemabuk termasuk tahu jumlah orang yang potensial bunuh diri. Dalam konteks sosial kependudukan Ketua RT adalah ahlinya, dibandingkan dengan elemen masyarakat yang lain.
Ketua RT yang jumlahnya 1.525 itulah yang pantas menjadi komandan SBH, bukan elemen yang disiapkan oleh Perbup yang berbau elit dan eksklusif.
Gabah di tingkat RT biar saja saling gesek di lumpang dan alu yang berbeda, tidak perlu digurui, mereka pasti akan cerdas dengan sendirinya. (Red)













