PUISI, atau karya sastra apapun jenisnya, setelah lepas dari tangan penulis adalah otonom. Artinya, soal penafsiran merupakan hak pembaca atau apresiator.
Meminjam ideomatika Khalil Gibran, puisi itu seperti anak panah yang lepas dari busurnya, tidak lagi menjadi kewenangan penulis.
Saya terbiasa mengirim puisi via Aplikasi WhatsApp, tanggapan ratusan penikmat beraneka ragam, sesuai dengan kekayaan batin mereka. Puisi bertajuk LAUT MENYELA, misalnya banyak direspon penikmat.
9. LAUT MENYELA
Kalian kira gelombang bakal lelah berayun dengan angin dan berangsur berhenti berbisik? Salah!
Kalian gembala sapi menunggu petang, tidak sadar jika pagi menyusul matahari, merangkaki bebatuan.
Ombak menepuk lambung bernama negara, anjungan terkoyak tak tersisa.
Harta atau nyawa? Pertaruhan ditawarkan laut, saat kalian bingung buang sauh antara Delta dan Omicron.
Pemimpin dunia bersekutu tak akan mampu melawan. Laut bukan milik mereka.
Laut menyela, menjemput orang-orang lalim seperti Fir’aun di abad lampau.
Putat, 8-2-2022.
Mas Widi Handoko, Sekretaris HKTI DIY termasuk rajin membaca karya yang saya tulis di WhatsApp. Komentarnya simpel,” Puisinya bagus,” ujarnya.
Senada dengan itu, Suharjiyo di tengah kesibukan merekam tembang campursari karya terbaru bertajuk Aja Dumeh, sempat nyeletuk,” Super sekali Pak,” kata Bang Suharjiyo.
Teman lama Mas Sarwono asal Desa Mertelu Gedangsari, saat sama-sama ngekos di Ledoksari, Desa Kepek, Wonosari, sekarang tinggal di Bekasi berucap kalem,” Makna yang dalam”.
Tetapi juga banyak yang gelisah dan mengeluh,” Jian ra gaduk kuping kulo (saya tidak paham sama sekali),” ucap Bejo Sunarno, PNS warga Padukuhan Gembuk, Desa Getas, Kapanewon Playen.
Yang beda banget adalah pemahaman Heri Nugroho, Wakil Ketua DPRD Gunungkidul. Politisi Golkar ini menanyakan angka 9.
“Sembilan laut niku pundi mawon? (Sembilan laut itu mana saja?)” ujar Heri Nugroho minta penjelasan 8-2-2022.
Tentu saja saya kaget dengan pertanyaan tersebut. Saya tidak bermaksud mengangkat 9 laut yang ada pada tubuh manusia yang dalam filosofi Jawa disebut Babahan Howo Nawa Sanga. Tetapi Mas Heri imajinasinya lari ke sana.
Sepandai pandainya manusia
Secerdik cerdiknya manusia
Sekuat kuatnya manusia
Sehebat hebatnya manusia
Tidak akan pernah bisa menjadi SUTRADARANYA DUNIA,” ini komentar Kapten Susanto, anggota Marinir yang saat ini tinggal di Surabaya.
Lain lagi dengan Raden Intan Manggala mantan personil Sekretariat DPRD Gunungkidul. Dia berucap,” Mantap. Teruskan berkarya pak bambang. Walau usia mulai senja, tapi semangat tak pernah pudar untuk berkarya.”
Sebagai penulis saya tidak akan menjawab respon pembaca, karena puisi yang lepas ke publik, soal penafsiran adalah hak pembaca, tergantung tingkat pengalaman dan kekayaan batin mereka.
Kundha Kebudayaan juga Dewan Kebudayaan Gunungkidul tiap tahun digelontor Danais milyaran rupiah. Sayangnya pembinaan komunitas apresiator sastra yang secara riil mulai muncul, belum pernah ada ceritanya. Belum pernah kecipratan Danais. (Bambang Wahyu)













