DALAM Buku Sejarah Alam Gunung Sewu karya Cahyo Rahmadi, Sigit Wiantoro dan Hari Nugroho terbitan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia disebutkan, Indonesia memiliki kawasan batu gamping yang telah mengalami proses pelarutan menjadi kawasan karst.
“Kawasan itu tersebar dari Aceh hingga Papua. Kawasan karst di Indonesia memiliki luas 154.000 kilometer persegi dengan keunikan bentang alam dan ekosistem, baik di permukaan maupun di bawah
permukaan,” tulis ketiga sarjana tersebut dalam kata pengantar, dikutip 29-12-2021.
Di Jawa, lanjut mereka, luasan karst mencapai 5.000 kilometer persegi, tersebar di deretan Pegunungan Utara dan Pegunungan Selatan. Salah satunya Karst Gunung Sewu berada di Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Karst Gunung Sewu seluas 1.300 km² dengan bentukan khas berupa ribuan kubah bukit membentuk bentang alam yang sangat unik dan khas.
Karst Gunung Sewu, juga memiliki sistem perguaan dengan sungai bawah tanah yang panjangnya mencapai ribuan meter bahkan puluhan ribu meter, dan menjadi habitat berbagai spesies flora dan fauna.
Beberapa spesies khas gua dari kelompok mikroba sampai fauna bertulang belakang, seperti kelelawar, ditemukan di dalam gua dan berinteraksi satu sama lain membentuk ekosistem karst, baik di permukaan maupun di bawah permukaan.
Keterkaitan antara komponen hayati dan non hayati telah memberi ruang hidup bagi makhluk, seperti manusia, yang sudah terindikasi menghuni Gunung Sewu sejak akhir Pleistocene.
Hal ini terbukti dengan ditemukannya beberapa sisa tulang dan tengkorak anak kecil yang diperkirakan berusia 11.500 tahun di Song Gupuh serta berbagai spesies lain, seperti kerang, rusa, kera, banteng, kerbau, babi hutan, trenggiling, gajah, beruang madu, dan tapir.
“Hal ini juga membuktikan bahwa Gunung Sewu merupakan habitat yang sangat ideal untuk hidup berbagai spesies fauna,” ujar mereka.
Pleistosen adalah suatu kala dalam skala waktu geologi yang berlangsung antara 2.588.000 hingga 11.500 tahun yang lalu.
Nama itu berasal dari bahasa Yunani πλεῖστος dan καινός. Pleistosen mengikuti Pliosen dan diikuti oleh Holosen dan merupakan kala ketiga pada periode Neogen. Wikipedia.
Kalau benar bahwa kabupaten Gunungkidul lahir 1831 berarti sejarahnya bisa dirunut melalui literasi sejarah Gunung Sewu.
“Bukan satu-satunya referensi tetapi bisa dijadikan sebagai salah satu daftar bacaan untuk mencari kebenaran sejarah kabupaten Gunungkidul,” ujar pengamat Joko Priyatmo, 29-12-2021. (Bambang Wahyu)
BANTUL - SENIN PAHING, Sebuah truk tronton terguling di Jalan Wonosari kawasan tikungan Bokong Semar,…
JAKARTA-KAMIS PON, BERTEPATAN dengan 28 tahun jatuhnya Orde Baru, sebuah buku sejarah kolektif tentang gerakan…
GUNUNGKIDUL - MINGGU WAGE, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…
SLEMAN - JUMAT PAHING, SEORANG pria asal Kabupaten Gunungkidul yang berdomisili di Kecamatan Seyegan, Sleman,…
GUNUNGKIDUL-RABU KLIWON, Dalam sepekan terakhir kasus pencurian dengan pemberatan terjadi di wilayah hukum Polsek Nglipar.…
GUNUNGKIDUL – SABTU WAGE, Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan dua sepeda motor terjadi di Perempatan…