“Setelah itu, barulah bisa dibuat kerajinan dengan bahan tambahan lainnya yaitu lem sebagai perekat,” terangnya.
Lebih lanjut Hardi Wiyono mengatakan, ia menggeluti kerajinan sejak tahun 1985, hingga sampai saat ini hasil karya yang ia buatnya laku di pasaran. Untuk harga bervariasi, mulai dari Rp 7.000, 00, Rp 10.000,00 hingga Rp 15.000,00 tergantung model dan bentuknya.
“Sekarang kan pariwisata di Gunungkidul potensinya meningkat, tidak mungkin harga segitu tidak akan laku,” ujarnya.
Sementara itu, Kolonel Infanteri Dr. Tugiman SH. M.Si, inisiator dari kegiatan tersebut mengatakan, pariwisata di Gunungkidul semakin berkembang pesat. Produk seperti ini, akan menjadikan sebuah karya yang menghasilkan nilai tambahan.
“Dengan begitu, ada aktivitas, ada kreativitas dari ibu-ibu, sehingga mereka dapat menghasilkan produk yang sebenarnya bahan baku mudah didapatkan,” tuturnya.
Tugiman menambahkan, bahan sederhana yang selama ini tidak dianggap bermanfaat kegunaanya di Gunungkidul, ke depan bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan ekonomi warga. (hr)
Page: 1 2
GUNUNGKIDUL - RABU KLIWON, Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, S.E., M.P., mengapresiasi kinerja UPK Satu…
KEPALA Badan Gizi Nasional (BGN) Naniek S Deyang mengundurkan diri dari jabatannya. Naniek mundur dari…
GUNUNGKIDUL - SENIN PON, Semangat warga Padukuhan Lemahbang, Kalurahan Karangasem, Kapanewon Paliyan, Gunungkidul dalam kegiatan…
SAPTOSARI – MINGGU PAHING, Dampak kekeringan akibat kemarau panjang mulai dirasakan oleh sebagian warga di…
GUNUNGKIDUL - JUMAT KLIWON, Dua warga di Kabupaten Gunungkidul dilaporkan meninggal dunia akibat gantung diri…
GUNUNGKIDUL – JUMAT KLIWON, Warga Dusun Nglaos, Kalurahan Kemadang, Kapanewon Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul digegerkan dengan…