Categories: BUDAYA

Menhir dan Kubur Batu Ditemukan Penduduk di Kawasan Hutan Klayar

NGLIPAR, Jumat Pahing-Situs prasejarah seperti kubur batu, menhir, fosil tulang, manik-manik, dan batu reruntuhan candi ditemukan masyarakat Padukuhan Klayar, Desa Kedungpoh, Kecamatan Nglipar. Penemuan situs tersebut, sebagai bukti adanya kehidupan jaman prasejarah. Saat ini situs tersimpan di lokasi wisata Klayar.

Kepala Dusun Klayar Tejo Suprapto menjelaskan, sedikitnya ada 9 situs yang ditemukan warga masyarakat, diantaranya:

  1. Jalan peninggalan era jaman penjajahan jepang romusa.
  2. Kantor mantri londo (RPH) Kenet, yang digunakan untuk penendalian kayu jati untuk diekspor pada jaman Belanda.
  3. Ada 3 pesarean (makam) demang:

– Demang Abu Khasan

– Demang Rekso Menggolo

– Demang Romo Yudho

  1. Altar Mojopahit yang terletak di Rt 06/10, Kenet, Klayar.
  2. Candi Plered
  3. Besalen (Tempat pembuatan keris) ditemukan sisa-sisa bekas tempaan dan serpihan-serpihan besi.
  4. Kubur batu, banyak ditemukan manik-manik jaman dahulu, tulang-tulang yang memfosil, gigi manusia, gerabah, kudi (semacam alat dari besi jaman dulu) dan lain-lain.
  5. Peradaban jaman prasejarah, ditandai dengan banyaknya peninggalan di wilayah Jati Bleduk dan Cakar merak.
  6. 7 sendang ( Banyu Sumurup Pitu)

– Sendang Bimo Suci

– Sendang Banyu Moto

– Sendang Sumur Tapak Bimo

– Sendang Banyu Awet

– Sendang Ngasinan

– Sendang Sumur Sinaban, dan

– Sendang Ngrumbut

Dituturkan Tejo, semua tempat situs tersebut sudah pernah didatangi para peneliti baik dari Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIY, Arkeologi, maupun peneliti dari Universitas Gajah Mada (UGM). Para peneliti rata-rata mengatakan bahwa memang ada peradaban jaman prasejarah ditandai dengan menhir-menhir yang ditemukan. Sertifikat penghargaan terkait penemuan reruntuhan candi yang ditemukan di dekat aliran sungai sumber Banyu Moto, pernah diberikan oleh BPCB DIY.

Untuk menjaga kelestariannya, warga masyarakat khususnya Pokdarwis Klayar berinisiatif mengumpulkan benda-benda cagar budaya di satu tempat. Warga memperkirakan masih banyak benda cagar budaya lain di kawasan hutan seluas 100 hektar tersebut.

Selain itu, Tejo berharap supaya bisa dibuat area khusus untuk menyimpan benda-benda bersejarah ini, sehingga kedepan dapat digunakan untuk penelitian sekaligus sebagai wisata edukasi bagi pelajar dan mahasiswa. (Joko)

infogunungkidul

Recent Posts

Pria asal Semanu Tewas Tertemper Kereta Api

SLEMAN - KAMIS LEGI, SEORANG pria tewas akibat tertemper kereta api di jalur KA KM…

8 jam ago

Polda DIY Larang Seluruh Personel Gunakan Vape

YOGYAKARTA – SELASA WAGE, POLDA Daerah Istimewa Yogyakarta melarang seluruh personelnya menggunakan rokok Elektrik atau…

3 hari ago

Truk Hino Terguling di Tikungan Bokong Semar, Sopir Luka Memar

BANTUL - SENIN PON, KECELAKAAN tunggal yang melibatkan sebuah truk Hino bernomor polisi H-8168-OH terjadi…

4 hari ago

Kapolresta Sleman Bantah Bagi-bagi Uang Rp50 Ribu dalam Bazar di Maguwoharjo

SLEMAN - SABTU LEGI, KAPOLRESTA Sleman, Polda DIY AKBP Dhimas Prasetyo membantah adanya informasi yang…

6 hari ago

Ribuan Mahasiswa UGM Wisuda Pascasarjana Tahun Akademik 2026/2027

YOGYAKARTA - SABTU LEGI, UNIVERSITAS Gadjah Mada (UGM) menggelar wisuda Program Pascasarjana Periode I Tahun…

6 hari ago

Kapolda DIY Imbau Masyarakat Tak Mudah Terprovokasi

YOGYAKARTA - JUM'AT KLIWON, Kepolisian Daerah (Polda) DI. Yogyakarta menghimbau masyarakat untuk tetap menjaga persatuan, tidak…

7 hari ago