Oleh: Ummafidz
Hati manusia ibarat cermin. Bila ia jernih, cahaya kasih sayang akan mudah memantul darinya. Namun bila berdebu oleh prasangka buruk, cermin itu kehilangan kejernihan, membuat pandangan kita keruh terhadap sesama. Prasangka buruk (su’uzh-zhan) adalah bisikan halus yang merambat di dalam hati. Ia datang tanpa diundang, tumbuh dari kecurigaan, lalu berbuah menjadi permusuhan.
Padahal, Allah SWT telah memperingatkan dalam firman-Nya:
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian prasangka itu adalah dosa…” (QS. Al-Hujurat: 12).
Ayat ini laksana pelita yang menuntun kita untuk selalu berhati-hati. Karena sesungguhnya, prasangka bukan hanya urusan batin, melainkan jalan yang bisa menjerumuskan pada dosa yang lebih besar: ghibah, fitnah, dan perpecahan.
Suatu hari, Rasulullah SAW duduk bersama para sahabat. Tiba-tiba lewat seorang lelaki Anshar. Nabi bersabda,
“Akan lewat di hadapan kalian seorang penghuni surga.”
Tak lama kemudian, lelaki itu melintas. Peristiwa itu berulang tiga hari berturut-turut.
Seorang sahabat, Abdullah bin Amr, penasaran. Ia pun mendatangi lelaki itu dan meminta izin untuk tinggal bersamanya. Selama beberapa hari, ia mengamati ibadahnya. Ternyata, lelaki itu tidak memiliki amalan yang luar biasa. Ia shalat sebagaimana muslim lain, ia berpuasa sebagaimana yang lain pula.
Akhirnya Abdullah bertanya,
“Amal apa yang engkau kerjakan hingga Rasulullah menyanjung sebagai penghuni surga?”
Lelaki itu menjawab dengan tenang,
“Amalku tidak banyak. Hanya saja, setiap malam sebelum tidur, aku selalu membersihkan hatiku dari iri, benci, dan prasangka buruk terhadap siapa pun.”
Kisah ini mengajarkan bahwa bukan banyaknya ibadah lahiriah yang membuat seseorang mulia, tetapi kejernihan hati yang bebas dari kotoran prasangka.
Menghindari prasangka buruk berarti melatih hati untuk selalu menaruh prasangka baik (husnuzh-zhan). Bukan karena kita menutup mata dari keburukan, tetapi karena kita sadar bahwa hanya Allah yang mengetahui isi hati manusia.
Prasangka buruk ibarat racun yang merusak benih kasih sayang. Sebaliknya, husnuzan adalah pupuk yang menyuburkan persaudaraan. Bila kita mampu menjaga hati agar senantiasa bersih, maka hidup akan dipenuhi cahaya.
Rasulullah SAW telah bersabda:
“Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah ucapan yang paling dusta. Jangan mencari-cari kesalahan, jangan memata-matai, jangan saling iri, jangan saling membenci, dan jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Maka, marilah kita berusaha menutup malam dengan hati yang lapang, dan membuka pagi dengan doa yang bening. Sebab, hati yang bersih dari prasangka adalah taman yang subur bagi tumbuhnya cinta dan rahmat Allah SWT.













