OPINI

MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN = KOSONG-KOSONG?

SETIAP tanggal 1 bulan Syawal usai shalat Idulfitri, umat Islam di Indonesia melaksanakan tradisi saling bersalaman sebagai tanda meminta maaf dengan mengucap minal aidzin wal faidzin disambung kalimat mohon maaf lahir dan batin.

Ucapan tersebut tidak cepat tetapi jamak dilakukan karena masyarakat tidak paham terhadap asal usul ucapan minal aidzin wal faidzin.

“Ucapan Idulfitri yang benar dari Rasulullah itu Taqabballahu minna wa minkum taqabbal ya Karim,” ujar Emha Ainun Nadjib di audium rektorat UNY dalam acara syawalan 18-6-2019 silam.

Sementara kalimat Ja alanallahu wa iyyakum minal aidzin wal faidzin menurut Cak Nun adalah kalimat Rasulullah yang diucapkan pada bala tentaranya saat mereka gkembali dari perang Badar yang dahsyat, menjelang datangnya bulan Ramadhan.

Kala itu, demikian Cak Nun bercerita, tentara Islam hanya 313 melawan 1000 tentara Quraisy, sekutu Abu Jahal.

Secara logika kemenangan tentara Rasulullah itu sulit dicerna akal. Tetapi karena campur tangan Allah SWT, rasionalitas perang beruban menjadi keajaiban.

Kemudian Rasulullah SAW berkata Ja alanallahu wa iyyakum minal aidzin wal faidzin, yang maknanya bukan maaf lahir batin, tetapi ”Semoga Allah SWT menjadikan kami dan Anda sebagai orang-orang yang kembali dan beruntung.

Kembali dari mana? Kembali dari perang Badar. Secara kontekstual begitu Cak Nun memaparkan.

Itu sebabnya ketika memasuki awal bulan Ramadan banyak orang mengucapkan Ja alanallahu wa iyyakum minal aidzin wal faidzin.

Sementara kekeliruan penggunaan kalimat tersebut terus berlarut. Kyai Supandi ustad dari Semarang setengah berkelakar mengatakan bahwa minal aidzin wal faidzin itu bahkan diartikan sebagai kosong-kosong dengan makna dosaku dosamu hilang.

Sangat lucu, tetapi tidak masalah, yang jelas ada niat untuk saling mengaku salah, meski pengakuan kesalahan itu dalam hal apa dan dalam konteks yang bagaimana tidak pernah jelas.

Merujuk Surat Al-Baqarah Ayat 225 bahwa tindakan manusia tergantung pada niat.

“Allah tidak menghukum kamu karena sumpahmu yang tidak kamu sengaja, tetapi Dia menghukum kamu karena niat yang terkandung dalam hatimu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun.”

Niat yang tulus untuk meminta maaf kepada sesama, dengan bahasa apapun, Alla SWT maha mengetahui.

Ja alanallahu wa iyyakum minal aidzin wal faidzin dimaknai kosong-kosong Gusti Allah maha pirsa. (Bambang Wahyu)

infogunungkidul

Recent Posts

Beat Vs Smash, Dua Pengendara Dilarikan Ke Rumah Sakit

NGLIPAR - SENIN PAHING, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…

27 menit ago

Indikasi Praktik Manipulasi TPR Baron, DPRD Minta Audit Menyeluruh

GUNUNGKIDUL-SENIN KLIWON, Persoalan tata kelola pendapatan sektor pariwisata khususnya wisata pantai di Kabupaten Gunungkidul, masih…

6 hari ago

Lupa Matikan Kompor, dua Rumah Ludes Terbakar Berikut Perhiasan dan Uang Tunai

TANJUNGSARI - SENIN KLIWON, Rumah milik Karim (71) warga Padukuhan Panggang 02/10, Kalurahan Kemiri, Kapanewon…

7 hari ago

Janabadra Club Dorong Sinergisitas Alumni Nasional untuk Kontribusi Almamater dan Bangsa

YOGYAKARTA-SENIN KLIWON, Lintas generasi alumni Universitas Janabadra (UJB) Yogyakarta menggelar acara halalbihalal nasional di Swiss-Belresidences…

7 hari ago

Kronologi Lengkap Penemuan Mayat Kering di Dalam Mobil Terparkir

YOGYAKARTA - MINGGU WAGE, warga Dusun Tiyasan, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, provinsi DIY…

1 minggu ago

Diduga Mencuri Sepeda Gunung, Oknum Anggota SatPol PP Diamankan Polisi

WONOSARI - SABTU PON, Sebuah  tamparan keras institusi pemerintahan kembali terjadi. Kali ini RDS alias…

1 minggu ago