Narasi Sejarah Gunungkidul Bukan Naskah Sejarah

219

MENCERMATI narasi sejarah Kabupaten Gunungkidul di bawah ini benarkah narasi sejarah Gunungkidul memenuhi syarat sebagai naskah sejarah.

“Pada waktu Gunungkidul masih merupakan hutan belantara, terdapat suatu desa yang dihuni beberapa orang pelarian dari Majapahit. Desa tersebut adalah Pongangan, yang dipimpin oleh R Dewa Katong saudara raja Brawijaya. Setelah R Dewa Katong pindah ke Desa Katongan 10 km utara Pongangan, puteranya yang bernama R Suromejo membangun Desa Pongangan, sehingga semakin lama semakin ramai. Beberapa waktu kemudian, R Suromejo pindah ke Karangmojo,” naskah dikutip dari Portal Gunungkidul.

Narasi di atas sangat sederhana. Memang benar bahwa ada disebut nama beberapa tokoh dan nama desa, tetapi tidak ada penyebutan tanggal maupun tahun pada masing-masing peristiwa.

Nama Brawijaya, dihimpun dari berbagai sumber, ada Brawijaya 1 hingga 6. Brawijaya yang mana dalam narasi di atas tidak disebut secara jelas. Sementara itu banyak tokoh Gunungkidul sepertinya sepakat bahwa yang dimaksud dalam naskah tersebut adalah Brawijaya 5.

Dalam silsilah sejarah raja Majapahit Brawijaya Ke 5 nama aslinya adalah Bhre Kertabumi. Dia memerintah 1468 hingga 1478, tidak pernah disebut memiliki saudara.

Kalau punya anak adalah benar namanya Raden Patah alias Jin Bun, yang lahir 1455, dari Puteri Cina Siu Ban Ci.

Dihimpun dari berbagai sumber, Puteri Campa itu adalah anak ulama Cina Tan Go Wat atau Syeh Benthong. Puteri Campa kemudian dibuang ke Palembang oleh Brawijaya Ke 5, karena permaisuri cemburu.

Menyebut nama R Dewa Katong rujukannya sangat diragukan, karena fakta menunjukkan karena Majapahit benar-benar hancur, terjadi pada masa kekuasaan Brawijaya Ke 6. Dia tidak lain adalah Gerindra Wardana, menantu Brawijaya Ke 5 yang memberontak kemudian memindahkan Ibukota Majapahit ke Daha Kediri.

Yang digempur habis-habisan oleh Raden Trenggono dan Pati Unus selaku penerus Raden Patah adalah Brawijaya Ke 6. Kalaupun dituturkan melarikan diri ke Gunungkidul, patut diduga, itu bukan Brawijaya Ke 5, karena Majapahit tamat riwayatnya, berdasarkan sejarah adalah tahun 1527, sementara Brawijaya Ke 5 memerintah tahun 1468 hingga 1478. Selisihnya 49 tahun

Tidak dipungkiri, Raden Patah setelah menjadi Sultan Demak karena didukung para Wali memang pernah membujuk Ayahanda Brawijaya Ke-5 untuk memeluk agama Islam, tetapi tidak ada narasi sampai Sang Bhre Kertabumi melarikan diri, karena kekuasaanya sudah dirampas Gerindra Wardana yang memberontak mertuanya sendiri..

Sementara, manuskrip narasi sejarah Gunungkidul bagian lain tertulis, “Perkembangan penduduk di daerah Gunungkidul itu didengar oleh raja Mataram Sunan Amangkurat Amral yang berkedudukan di Kartosuro. Kemudian ia mengutus Senopati Ki Tumenggung Prawiropekso agar membuktikan kebenaran berita tersebut. Setelah dinyatakan kebenarannya, Tumenggung Prawiropekso menasehati R Suromejo agar meminta ijin pada raja Mataram, karena daerah tersebut masuk dalam wilayah kekuasaannya.

R Suromejo tidak mau, dan akhirnya terjadilah peperangan yang mengakibatkan dia tewas. Begitu juga 2 anak dan menantunya. Ki Pontjodirjo yang merupakan anak R Suromejo akhirnya menyerahkan diri, oleh Pangeran Sambernyowo diangkat menjadi Bupati Gunungkidul pertama. Namun Bupati Mas Tumenggung Pontjodirjo tidak lama menjabat karena adanya penentuan batas-batas daerah Gunungkidul antara Sultan dan Mangkunegaran 2 pada tanggal 13 Mei 1831.

Gunungkidul (selain Ngawen sebagai daerah enclave Mangkunegaran) menjadi kabupaten di bawah kekuasaan Kasultanan Yogyakarta,” dikutip dari Portal Gunungkidul.

Kata kunci narasi kedua ada pada Sunan Amangkurat Amral. Amangkurat 2 Raja Mataram itu terkenal dengan sebutan Amangkurat Amral karena gemar mengenakan uniform Angkatan Laut Belanda. Dia memerintah dari 1677-1703.

Jarak antara runtuhnya Majapahit 1527 dengan kekuasaan Sunan Amangkurat Raja Mataram yang berkedudukan di Kartosuro 1677 adalah 150 tahun.

Pertanyaan sederhana, bagaimana para penelusur sejarah Gunungkidul merekonstruksi perang besar antara yang diduga pelarian Majapahit dengan utusan Amangkurat Amral.

Narasi kedua terlalu menyederhanakan peristiwa sejarah. Lagi pula perang besar yang dimenangkan Amangkurat Amral tidak ada titimangsamya, tahun berapa itu terjadi.

Makin konyol dan a-historis ketika pada narasi kedua disebutkan bahwa Tumenggung Pontjo Dirdjo dilantik menjadi Bupati Gunungkidul oleh Pangeran Samber Nyowo, padahal Sang Pangeran meninggal 23 Desember 1795. Tigapuluh enam tahun meninggal kemudian bangkit melantik Bupati.

Narasi satu dan dua itu sebenarnya naskah dongeng, tidak layak untuk disebut naskah sejarah. Jadi wajar kalau Bupati Sunaryanta bersikeras memerintahkan untuk diperbaiki dan disempurnakan. (Bambang Wahyu)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.