WONOSARI, Minggu Kliwon – Puisi Munajat 212, sebagai ungkapan hati Neno Warisman, adalah teks yang harus dipahami utuh. Apresiant (penikmat) tidak bisa memaknainya denga cara sepenggal-sepenggal. Puisi Munajat 212, karya Neno Warisman, mulai dari judul hingga baris, bahkan kata terakhir, saling berkait. Memenggal sebait, mengeluarkan dari teks keseluruhan, pasti menimbulkan salah tafsir.
Pada rezim Soekarno, penyair Taufiq Ismail banyak menulis puisi berjenis munajat (doa). Pada era Soeharto, WS Rendra banyak menulis puisi jenis balada. Kedua penyair tersebut, mewakili zaman, memprotes diri sendiri, memprotes keadaan negara bernama Inonesia.
Neno Warisman dalam puisi sepanjang 23 bait, 674 kata, berdoa untuk manusia Indonesia, ”Puisi munajat kuhantarkan kepadamu wahai berjuta-juta hati yang ada di sini. Engkau semua bersaudara dan kita bersaudara bersambung terekam bergabung bagai kalung lentera semesta,” bait 1.
Kelompok kata (prase) yang berbunyi “bersambung terekam, bergabung bagai kalung lentera semesta, menggambarkan bahwa doa itu untuk Indonesia yang Neno cintai.
Lebih konkret, Neno mendeskripsikan kebersamaan, dengan paralelisme, “Miliaran matahari itu saudaraku, merekatkan diri, menjadi gumpalan kabut cahaya raksasa di semesta, bukti kebesaran Allah Azza wa Jalla, begitulah kita saudaraku,” (bait ke 7).
Puisi prosaik Neno mengalir, dia bilang di bait ke 8, “Harusnya kita saling merekat, wahai para pejuang fii sabilillah di jalannya, ayo munjat, ayo rekatkan umat, jadikan barisan-barisanmu kuat dan saling rekat, rekatkan Indonesiamu, rekatkan jiwa-jiwamu, rekatkan langkah dan tindakanmu”.
Keindonesiaan (nasionalime) Neno sedemikian kental, giliran sampai bait ke 9, dia menengadah, ”Ya Allah berjuta tangan para pejuang agamamu ini mengepalkan tinju mereka, berseru-seru mereka, mederu-deru mereka di setiap jengkal udara, hingga terlahir takbir kemenangan”.
Pada bait ke 10, Neno Warisman kembali bicara dengan sesama, bernada menawarkan harapan besar,” Kemenangan di ujung lelah, menggema. Takbir bersahut-sahutan. Berjuta sajadah akan kita hamparkan sebentar lagi kawan, berjuta kepala, menangis bersujud, bersyukur, basah air mata dalam bahagia kemenangan, sebentar lagi tiba”.
Getaran munajat Neno Warisman pun dimulai. “Allahumma inni a’udzubika min jahdil bala wa darqil syaqa, wa suil qada’, wa syamadatil a’da’, jauhkan kami dari bala musibah, yang tak dapat kami atasi, lindungi kami dari kegembiraan orang-orang yang membenci kami,” tulis Neno pada baitke 11.
Berikutnya mengalir runtut mulai bait 12 hingga bait 15.
“Rekatkan jiwa-jiwa patriot kami dalam keikhlasan, di nadi-nadi kami, di jantung-jantung kami, di pundak-pundak kami, di jari-jari kami yang telah memilih untuk hanya selalu berdua, kita dan Allah Azza wa Jalla, selalu berdua, kita dan Rasulullah kekasih semesta, selalu berdua, kita dan saudara mukmin saling menjaga, selalu berdua, kita dan pemimpin yang membela hak-hak umat seutuhnya” (bait 12).
“Duhai Allah Rabb, jangan Kau jadikan hati kami bagai si penakut-penakut, pengecut, sebab kami terlahir di tanah para pahlawan yang berani yang rela mengorbankan jiwa raga, harta dan segalanya,” (bait 13).
“Jangan jadikan hati kami lalai dan gentar, karena kami lahir dan besar dibimbing para ulama kami yang sabar, menetap jantung-jantung kami untuk menjadi pendekar yang berani berpihak pada yang benar,” (bait 14).
“Duhai Allah jangan Kau jadikan hati kami tertutup dari cahaya terang kebenaran-Mu, yang menyala di malam-malam munajat saat Engkau turun ke jagat dunia telah engkau bersaksikan kami tegak berdiri Ya Allah,” (bait 15).
Penyair yang juga ustadah ini menyadari, terkabulnya doa merupakan hak prerogatif Allah SWT, maka di bait ke 16 dia bilang, “Kami meminta menangis, hingga basah sekujur diri kepada-Mu, seluruh harapan kami dambakan, akan Engkau tolong atau Engkau binasakan, akan Engkau menangkan atau Engkau lantakkan, itu hak-Mu”.
Hebohnya menjadi sangat luar biasa, ketika bait ke 17 dikeluarkan dari teks keseluruhan Puisi Munajat 212. Bait 17 berdiri sendiri, oleh berbagai kalangan tidak dipahami secara holistik dengan bait sebelum maupun sesudahnya.
“Namun kami mohon, jangan serahkan kami kepada mereka, yang tidak memiliki kasih sayang kepada kami dan anak-cucu kami. Dan jangan Engkau tinggalkan kami, dan menangkan kami, karena jika Engkau tidak menangkan kami khawatir Ya Allah, kami khawatir Ya Allah, tak ada lagi yang menyembah-Mu, ya Allah,” inilah bait ke 17 yang dikeluarkan dan kemudian dihebohkan itu.
Mereka yang disebut di bait 17, pada konteks indonesia di tengah pergolakan dunia bisa bermakna tangan-tangan asing yang sedang mengobok-obok negeri ini melalui kontestasi 17 April 2019.
Permainan mereka sangat kasar sekaligus sangat halus. Bangsa Indonesia, diakui atau tidak, saat ini sangat mudah kembali diadu domba.
Puisi Neno, berbau politik, adalah benar. Pertanyaannya, salahkah dalam berpolitik orang memohon perlindungan kepada-NYA?
Neno Warisman menutup doa di bait 23, ” Untuk hari depan yang lebih baik, untuk kepemimpinan yang berpihak pada rakyat, bersama-Mu dan bersama Rasul-Mu dalam ketinggian titah-Mu, kami bermunajat, keluarkan kami dari gelap, keluarkan kami dari gelap, keluarkan kami dari gelap, Amin, Allahumma Amin ya Rabbal ‘Alamin.”
GUNUNGKIDUL - KAMIS KLIWON Setidaknya 1.780 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dilarang beroperasi untuk sementara…
YOGYAKARTA - RABU PON | POLRES Bantul resmi menerbitkan Daftar Pencarian Orang atau (DPO) terhadap…
GUNUNGKIDUL – SENIN PAHING, Diduga kehilangan kendali, sepasang suami istri lanjut usia alami kecelakaan tunggal…
NGLIPAR - SENIN PAHING, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…
GUNUNGKIDUL-SENIN KLIWON, Persoalan tata kelola pendapatan sektor pariwisata khususnya wisata pantai di Kabupaten Gunungkidul, masih…
TANJUNGSARI - SENIN KLIWON, Rumah milik Karim (71) warga Padukuhan Panggang 02/10, Kalurahan Kemiri, Kapanewon…