KARANGMOJO, Senin Wage – Wilayah Gunungkidul, terutama kawasan batu kapur, di musim kemarau terkenal kering. Air permukaan tanah jarang ditemukan, kecuali tempat-tampat terntentu. Petani Dusun Kerdon, Desa Jatiayu terbilang beruntung karena di musim kering masih bisa berbcocok tanam.
Berkeliling ke 144 desa di Gunungkidul mirip dengan membaca Kering, novel karya Iwan Simatupang. Kekurangan air terjadi diberbagai tempat.
“Untuk keperluan pertanian, air tersedia hanya di musim basah. Anugrah besar bahwa Padukuhan Kerdon, Desa Jatiayu, Kecamatan Karangmojo terlimpahi kemurahan,” kata Sugiyono, kades Jatiayu, (7/8).
Di wilayah ini menurutnya masih tersimpan sedikit sumber air yang bisa dimanfatkan petani. Padukuhan Kerdon terdapat sumber air sepanjang tahun. Sungai Kerdon pada musim kemarau bisa mengairi lahan pertanian, meski cakupannya tidak seberapa luas.
“Kelompok tani di padukuhan ini rutin memanfaatkan Sungai Kerdon untuk keperluan budidaya cabe merah,” imbuh Sugiyono.
Agung, Wastilah, Suprapto, Subandi, Mamik dan Sutarto rutin memanfaatkan Sungai Kerdon di samping untuk budidaya cabe merah juga untuk sayuran.
“Luas cabe merah tidak seberapa, hanya kurang lebih 2 hektar, atau 40.000 batang,” timpal Subandi.
Harga cabe merah Agustus 2017 menurut Subandi, sekitar Rp 10.000,00 hingga Rp 15.000,00 perkilogram. Panen tahun ini, kata dia, cukup untuk menambah pendapatan petani. Agung Sedayu













