Pangan Lokal Patut Memperoleh Perhatian Serius

155

WONOSARI, RABU PON-Menyangkut Penyelenggaraan Urusan Pemerintah Daerah, Bupati Gunungkidul Hj. Badingah S.Sos menempatkan bidang pangan dalam urusan wajib pada prioritas ke 10, di bawah bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Penganggaran untuk dua bidang tersebut dinilai tidak seimbang.

Dana yang dikucurkan pun selisih Rp 674.560.300,00. Tahun 2017, bidang pangan hanya dijatah Rp 620.702.500,00, sementara dana untuk bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak mencapai Rp 1.295.262.800,00.

Badingah, dalam Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Tahun 2017 tidak menjelaskan alasan pembedaan soal kucuran anggaran. Dia hanya menyebut, bahwa daya serap anggaran bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak 97%, sementara bidang pangan 96%.

Bidang pangan, berdasarkan Undang-Undang No. 18 Tahun 2012 merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling utama. Pemenuhannya merupakan bagian dari hak asasi manusia yang dijamin di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. Pangan, sebagai komponen dasar untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas.

Negara, demikian amanat UU 18 tahun 2012, berkewajiban mewujudkan ketersediaan, keterjangkauan, dan pemenuhan konsumsi yang cukup, aman, bermutu, bergizi seimbang, baik pada tingkat nasional maupun daerah hingga ke tingkat perseorangan secara merata di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sepanjang waktu dengan memanfaatkan sumber daya, kelembagaan, dan budaya lokal.

Soal keberagaman pangan lokal, Kabupaten Gunungkidul terlalu kaya dan bervariasi. Menyebut satu jenis, bonggol pisang kepok bisa diolah menjadi kripik goreng yang diburu para penggila kuliner.

Awal tahun 2017, VC Paku Sadewo, dari Padukuhan Klegung, Desa Katongan, Kecamatan Nglipar, mengembangkan Kripik Bonggol Pisang (Kribosang).

“Kripik berbahan baku umbi pisang kepok yang telah dipanen ini cukup diminati oleh para penggemar kuliner untuk buah tangan,” ujar Sutarto (18/04).

Seiring berkembangnya dunia pariwisata, masyarakat rajin mencari terobosan, mengolah kuliner (penganan) khas Gunungkidul.

Wareng (walang goreng), menyusul Kribosang, Kripik Kimpul dan yang lain merupakan elemen ketahanan pangan yang patut memperoleh perhatian serius. Redaksi




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.