OPINI

PARIWISATA GUNUNGKIDUL AKAN SEMAKIN TERLUNTA-LUNTA

GUNUNGKIDUL-KAMIS WAGE | Setelah 17 tahun pariwisata Gunungkidul berantakan. Mau lanjut atau banting stir tergantung kecerdasan pemimpinnya.

Sejak tahun 2010 hingga tahun 2020 dalam hal pembangunan pariwisata Pemda Gunungkidul memilih strategi unik.

Meminjam pisau analisa Yosihara Kunio, Pemda Gunungkidul mengunakan system bangau terbang. Geliatnya sejak 2004, tetapi mulai rontok di akhir tahun 2019.

Ditumbuhkan sebanyak-banyaknya destinasi pariwisata, selain yang sudah ada, adalah merupakan pilihan strategis untuk menjamu wisatawan domestik maupun manca.

Gambaran konkretnya seperti bangau terbang yang bersaf-saf tidak ada putusnya. Itulah yang kemudian dikenal dengan model pengembangan pariwisata berbasis masyarakat yang dikonsep dan dikembangkan Bupati Bandingah.

Strategi yang dijalankan selama satu dekade itu cukup membuat Gunungkidul melambung kemudian bermimpi menjadi Bali ke 2, walau impian hingga tahun 2021 tidak gampang dilaksanakan.

Dua catatan penting perlu diingat, terkait diterapkannya strategi pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.

Dari jumlah destinasi yang dikembangkan selama sepuluh tahun tidak sedikit yang kemudian mandek tidak dikunjungi wisatawan bahkan mati tidak terurus untuk selamanya walaupun semangat para pengelolanya masih tetap menyala-nyala.

Pengembangan pariwisata berbasis masyarakat memunculkan konflik kepentingan. Itu catatan yang pertama.

Destinasi Gua Pindul hingga saat ini konfliknya belum reda karena Pindul itu seperti api di dalam sekam. Pemda Gunungkidul sepertinya mampu mengerem, tetapi sesungguhnya rem tersebut blong karena kampasnya palsu.

Dunia pariwisata dengan dunia pertanian seperti bumi dan langit. Dalam pariwisata banyak pihak menaruh kepentingan mulai dari tokoh setempat hingga pejabat tingkat Kapanewon maupun Kabupaten, bahkan Propinsi.

Yang hidup ayem tentram itu hanya petani. Di Gunungkidul tidak pernah terdengar petani mengeluh karena jagungnya di gasak pandemi.

Yang terus bergolak dan resah itu para pelaku pariwisata dengan segala unsur pendukung seperti penjual kuliner. Mereka rata-rata mengeluh karena terpukul pandemi.

Arah tulisan ini menyemangati para petani agar terus berkarya. Lupakan saja pemerintah yang masih bermimpi menjadi Bali jilid dua.

Jadilah petani singkong, jagung, kedelai dan kacang. Atau jadilah peternak unggas, kambing, sapi pemelihara lele nila dan gurami.

Toh jika pasar nasional dan internasional diblokir pandemi, pasar lokal dan kebutuhan dapur tetap terbuka lebar.

Petani tidak perlu balik arah, kalau sadar dan mau biar Pemerintah yang putar haluan, banting stir ke ranah agraris. Ke depan dunia pariwisata akan semakin terlunta-lunta. (Bambang Wahyu Widayadi)

infogunungkidul

Recent Posts

Melintas di Bokong Semar, Truk Tronton Terguling

BANTUL - SENIN PAHING, Sebuah truk tronton terguling di Jalan Wonosari kawasan tikungan Bokong Semar,…

55 menit ago

28 Tahun Reformasi, Aktivis UJB Terbitkan Buku Sejarah Gerakan Mahasiswa Empat Dekade

JAKARTA-KAMIS PON, BERTEPATAN dengan 28 tahun jatuhnya Orde Baru, sebuah buku sejarah kolektif tentang gerakan…

4 hari ago

“Adu Banteng” Vario Vs Supra dua Korban Dilarikan ke-RS

GUNUNGKIDUL - MINGGU WAGE, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…

1 minggu ago

Gorok Leher Sendiri, Pria Asal Gunungkidul Ditemukan Tewas

SLEMAN - JUMAT PAHING, SEORANG pria asal Kabupaten Gunungkidul yang berdomisili di Kecamatan Seyegan, Sleman,…

1 minggu ago

Waspada! Diduga Ulah Maling, 3 Warga Nglipar Kehilangan Emas dan Uang Tunai

GUNUNGKIDUL-RABU KLIWON, Dalam sepekan terakhir kasus pencurian dengan pemberatan terjadi di wilayah hukum Polsek Nglipar.…

2 minggu ago

Adu Banteng CBR Vs Supra, Satu Korban Meninggal Dunia

GUNUNGKIDUL – SABTU WAGE, Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan dua sepeda motor terjadi di Perempatan…

3 minggu ago