WONOSARI – SELASA LEGI | Anggota DPRD Gunungkidul angkat bicara, terkait penyediaan ruang isolasi untuk pasien Covid-19. Dewan melihat, Pemda bergerak lamban.
Eri Agustin Sudiyati, SE. MM. Ketua Komisi A DPRD Gunungkidul menyatakan, memang ada ganjalan regulasi yang cukup serius.
SKB Menteri menyatakan ada keleluasaan pemangkasan anggaran. Di sana ditegaskan bahwa tidak perlu ada pembahasan bersama DPRD.
INFO HARI INI-JUMINAH WARGA GUNUNGKIDUL MENOLAK, YANG LAIN BUTUH BANTUAN
Tetapi menurut Eri, dalam hal pengesahan perubahan APBD tetap membutuhkan persetujuan DPRD. Termasuk aneh, pembahasanya tunggal, namun hasilnya lambat.
Kala diminta menanggapi respon masyarakat yang tinggi terhadap nasib para pemudik, Eri mengacungkan jempol.
Responsibilitas warga yang cepat seperti di Panggang III, Sawah Girisekar, Kedungpoh, Kecamatan Nglipar dan yang lain, dalam menyiapkan rumah isolasi mandiri bagi pemudik, menurutnya sangat baik untuk ditiru guna menyadarkan semua pihak agar bekerja lebih cepat.
Sementara itu, Heri Nugroho, SS, Wakil Ketua DPRD Gunungkidul menyatakan, penetapan RSUD Saptosari menjadi RSUD isolasi baru saja dilakukan.
Heri Nugroho melihat dari sisi lain, bahwa menurutnya, RSUD Saptosari awalnya bukan untuk isolasi.
Disamping itu, kata Heri Nugroho, tidak pernah diperkirakan bahwa perkembangan Covid-19 di Gunungkidul sebegitu pesat.
Terlepas Covid-19 itu berkembang cepat atau sebaliknya, Heri menilai, ada sasuatu yang salah, terutama dalam hal mahami penyakit menular.
Indikasinya Pemda gagal ngrasani gedung kesenian untuk disulap sebagai ruang isolasi, termasuk tidak berhasil meminjan gedung PDHI. (Bambang Wahyu Widayadi)













