PENYIMPANGAN politik pernah terjadi di panggung pemilu Pemilihan Presiden, Megawati Capres dari PDI Perjuangan, Prabowo Capres dari Gerindra.
Tahun 2009, Prabowo dipaksa oleh situasi, sehingga batal maju sebagai Capres tetapi turun level menjadi Cawapresnya Mega.
Endingnya Megapro, sebutan Mega Prabowo kala itu, harus mengakui keunggulan Susilo Bambang Yudhoyono. Mega Prabowo, bertekuk lutut.
Pemilu tahun 2024, sebagian publik mewacanakan, Joko Widodo 3 Periode. Sementara ketika KPU RI menetapkan Rabu Pahing 14 Februari 2024 sebagai hari pencoblosan, maka kemungkinan Jokowi 3 Periode tertutup.
Yang masih terbuka adalah rumor politik. Ini seperti deviasi politik pada zaman Megapro. Prabowo Capres, Jokowi Cawapres. Dan faktanya wacana tersebut terus dihembuskan oleh publik pendukung Prabowo.
Apa Jokowi rela dan mau menjadi Cawapresnya Pranowo?
Persoalannya bukan mau dan tidak mau, tetapi Jokowi ini faktanya terus ngotot untuk memindahkan ibu kota negara ke Kalimantan Timur.
Siapa yang harus masuk ke istana baru yang dibangun dengan susah payah oleh Jokowi? Apakah orang lain atau dia sendiri yang akan mencoba mencicipi fasilitas ibukota negara di Kalimantan Timur? Atau Jokowi akan mencari orang kuat yang mampu mengamankan megaproyek yang sarat bisnis internasional itu?
Ini sebuah teka-teki besar dari dinamika kekuasaan pada masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Rukir politik bisa ya, bisa tidak. (Bambang Wahyu)













