Pemilu Tahun 2019, Politik Uang Dimungkinkan Makin Marak

727

WONOSARI, Senin Kliwon – Meski diwarnai wolkout, akhirnya menyangkut pemilu 2019, semua fraksi di DPR RI sepakat memilih sistem proporsional terbuka. Rancangan Undan-Undang Pemilu sudah ketok. Dua tahun lagi, politik uang makin marak. Citra partai politik, bisa makin rusak.

“Pengalaman saya mengikuti  pemilu dua kali yakni tahun 1999 dan 2014, sistem proporsional terbuka ternyata membuat partisipasi publik lebih besar,” ujar anggota legeslatif DIY, Slamet S.Pd. MM, 24/7/17

Tentu saja, menurut Slamet, sistem tersebut akan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran politik masyarakat. Hanya calon terbaik yang akan terpilih.

Sebagaimana diketahui, dalam sistem proporsional terbuka yang diterapkan selama dua periode pemilihan, mereka yang terpilih menjadi legislator adalah yang menuai suara terbanyak.

Menurut Slamet, dalam sistem proporsional terbuka yang akan banyak bekerja adalah bakal calon anggota legislatif. Caleg nomor urut 1 sampai 9,  mempunyai kesempatan yang sama.

“Artinya, dalam pemilu nanti, partisipasi publik jauh lebih tinggi karena semua caleg akan melaksanakan sosialisasi ke semua arah dapil dan semua elemen masyarakat,” tandasnya.

Sistem proporsional terbuka, juga akan jauh lebih meriah, karena semua caleg menggunakan berbagai macam strategi dalammelakukan  pendekatan pada konstituen.

Dalam sistem terbuka, seorang caleg akan terjun secara leluasa. Disamping berkompetisi dengan caleg dari partai lain, mereka juga akan bersaing dengan caleg internal partai,  memperebutkan suara terbanyak.

Yang dikhawatirkan, menurut estimasi Slamet  adalah saling jegal sesama caleg internal dan maraknya money politik. Iniberkecenderungan merusak sistem yang dibangun internal parpol. Agung Sedayu




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.