Pertarungan Hukum: Mantan Direktur RSUD Wonosari Bakal Diadili, Direktur Baru Dipolisikan

661

WONOSARI-KAMIS PAHING | Dikabarkan dugaan kasus korupsi mantan Direktur RSUD Wonosari dr. Is. segera disidangkan, karena ditengarai merugikan uang negara sebesar Rp 470 juta.

Tidak luput, dikabarkan pula bahwa As. yang kala itu satu kantor dengan dr. Is. Ikut terseret hukum sebagai TSK, tetapi dengan BAP tersendiri.

Ketika dikonfirmasi As. menampik, bahwa dia tidak dipanggil sebagai TSK. Ini tidak lazim, kata dia, 30-6-2022, karena dalam penyelidikan yang menanya\i duluan biasanya anak buah, baru pucuk pimpinan kena imbas.

Winarno, SH. MH. selaku Penasehat Hukum (PH) dr. Is. membenarkan, bahwa yang disampaikan As. telah mewakili hati dan pikiran dr. Is.

“Kami selaku PH dr. Is. menyiapkan bahan untuk pendampingan dan pembelaan hukum selama penyidikan di persidangan. Kalau sumber berita media memang banyak dibantu Pak As,” tegas Winarno, SH. MH.

Kabar lain dari sumber yang sama, yang belum terkonfirmasi menyebutkan bahwa release Polda DIY beberapa hari lalu sangat berbeda dengan fakta yang sebenarnya.

Dalam hal ini, terindikasi adanya dugaan alur konspirasi yang sengaja menjerat dr. Is ke balik jeruji besi.

“Yang penting mantan Dirut RSUD Wonosari itu masuk hotel prodeo,” ujar penduga, dengan menunjuk bukti baru berupa laporan polisi, bahwa dr. Heru, Direktur RSUD Wonosari pengganti dr. Is. membuat laporan palsu soal hilangnya Kas RSUD sebesar Rp 470 juta.

Melalui Laporan Polisi Nomor LP-B/0401/V/2021/DIY/SPKT, tertanggal 24 Mei 2021 dr. Heru Sulistyowati, Sp.A, juga drg. RM Wahyu Hidayat Indra P, serta Indrayati ketiganya beralamatkan di RSUD Wonosari telah membuat laporan palsu tersebut.

Laporan As diterima PAUR2 SIAGA SPKT Inspektur Polisi Dua Bambang Nursito Hadi, SH atas nama Kapolda DIY, tertanggal 24 Mei 2021.

Ketiganya dilaporkan As. selaku korban, karena patut diduga mereka melanggar Pasal 263 KUHPidana tindak pemalsuan surat sehingga korban dirugikan Rp 470 juta.

“Padahal faktanya uang kas RSUD telah disetor 8 Agustus 2018, sebesar Rp 488.034.628,00 ke rekening RSUD Wonosari di Bank BPD DIY Cabang Wonosari,” tunjuk As, disertai menunjukkan bukti setoran.

Surat yang mereka buat jelas palsu, terang As, karena tidak ada dalam system Aplikasi Surat Online Pemkab Gunungkidul. Kode dan penomoran surat pun tidak sesuai dengan surat yang diterbitkan tahun 2018.

Menurut As. surat palsu itu dibuat bulan Januari 2020 saat perkara masuk ke tahap penyidikan. Direktur dr. Heru Sulistyowati, bendahara INDARYATI dan Ketua SPI drg. Wahyu, membuat surat palsu yang ditanggali 10 Maret 2018 sampai dengan 4 Agustus 2018. Mereka menyatakan seolah -olah uang pengembalian jasa laborat yang disimpan di brankas hilang sehingga RSUD harus mengeluarkan uang kas rumah sakit untuk nalangi setoran. Surat-surat palsu tersebut diserahkan ke BPKP DIY sebagai bahan audit.

Sementara berdasarkan laporan Hasil Pemeriksaan Keuangan dari BPK-DIY tahun anggaran 2018, tidak ada catatan adanya pengeluaran uang kas rumah sakit senilai Rp 470 juta.

Bahkan, menurut As, di Buku Kas Umum Laporan Keuangan RSUD Wonosari tahun 2018 juga tidak ada pengeluaran uang kas sebesar Rp 470 juta.

Patut diketahui, dr. Is. pensiun 31 Desember 2016. Menjelang pensiun, uang pengembalian jasa laborat 2009-2015 diserahkan ke bendahara INDARYATI untuk disimpan di brankas, karena belum ada rekomendasi dari Tim Kejati DIY yang waktu itu melakukan pemeriksaan atau audit dari BPK-RI/BPKP-RI/Irda yang menyatakan ada salah bayar sehingga uang jasa laborat tersebut menjadi kerugian negara. uang yang diitipkan adalah Rp 488.034.628,00.

Tambahan info yang disampaikan As. pada 9 Maret 2018, setelah dr. Is. pensiun, Satuan Pengawas Internal (SPI) melakukan pemeriksaan kas. Uang, kata As. masih dalam posisi utuh sebesar Rp 488.034.628,00.

(Bambang Wahyu)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.