Petani Rumput Odot Pindah Ke Rumput Packhong

264

PLAYEN=KAMIS WAGE | Sukarman, warga Jatisari, Kalurahan Playen, Kapanewon Playen, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, selaku pembudidaya rumput odot, pilih pindah ke rumput pakchong kecukupan pakan kambing piaraannya.

“Rumput pakchong produksinya lebih tinggi, begitu pula kandungan nutrisi proteinnya.
Rumput pakchong 16,45%, rumput taiwan 13 %, rumput odot hanya 11,6%,” ujar Sukarman, 20-10-2022.

Itulah alasannya, dia bersama istri memilih pindah dari odot ke pakchong, atas saran PPL peternakan sejak tahun 2018 silam.

Dia mengaku tiap bulan panen. Tiap satu meter persegi, diubin sebagaimana padi menghasilkan pakan ternak 150 kg dengan catatan pupuk kandang dan pengairan cukup.

Tidak kurang akal di musim kering soal pengairan Sukarman memasang PPC untuk mengalirkan limbah rumah dapur dan limbah kamar mandi.

“Hasil panen rumput pakchong bahkan sempat dibeli oleh tetangga peternak. Tiap bongkok (ikat) seharga Rp 20.000,00,” terang suami istri, Sukarman dan Rini.

Padahal niat awal menanam rumput pakchong hanya untuk mencukupi hewan piaraanya sendiri.

Di pekarangan rumah, demikian Sukarman bilang hanya menanam sekitar 400 meter persegi. Sesuai petunjuk teknis, kata dia produk rumput pakchong tidak kurang dari 1.500 ton, sementara rumput odot dengan luasan yang sama hanya 350 ton.

Sukarman tidak sendirian. Slamet Harjo, warga Nglebak, Desa Katongan, Kapanewon Nglipar bahkan membuat lumbung pakan untuk 6 ekor sapinya. Di musim kemarau, dia rela menyiram pakchong dengan tangki.

(Bambang Wahyu)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.