Categories: PEMERINTAHAN

Presiden Jokowi: Banyak Aturan Banyak Korupsi

WONOSARI, Rabu Pahing – Presiden Joko Widodo gemes. Dia menghitung di Indonesia terdapat 42.000 peraturan, menjadi sarang korupsi. Dia bakal membuka sayembara. Menteri, Gubernur, Bupati/ Walikota yang bisa memangkas aturan, akan diberi hadiah. Satu yang terlewatkan, regulasi daerah, payung hukumnya ada regulasi yang berada di atasnya tidak dibicarakan.

Jokowi menekankan pentingnya deregulasi (penyederhanaan aturan). Menurutnya, hal itu merupakan salah satu strategi pencegahan korupsi.

Regulasi, menurut Jokowi adalah untuk melindungi kepentingan publik. Tetapi menurut Jokowi, setiap regulasi seperti pisau bermata dua.

“Setiap aturan, izin, persyaratan, jadi objek transaksi, objek korupsi,” tegas  Presiden seperti dikutip beritasatu.com.

Hal di atas disampaikan Presiden saat membuka Konferensi Nasional Pemberantasan Korupsi ke-12 serta peluncuran Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) elektronik atau e-LHKPN di Ruang Birawa Hotel Bidakara, Jakarta, Senin (11/12).

Acara tersebut digelar dalam rangka Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) yang diperingati setiap 9 Desember. Tema yang dipilih tahun ini:

Bergerak Bersama Memberantas Korupsi untuk Mewujudkan Masyarakat Sejahtera.

Perizinan di Indonesia tidak lagi berjumlah puluhan, melainkan ribuan. Hampir setiap urusan pelayanan publik dan usaha menggunakan izin.

“Banyak yang suka menerbitkan aturan yang tidak jelas. menggunakan bahasa abu-abu. Kalau minta surat klarifikasi, maka surat itu bisa menjadi objek transaksi,” ungkap Presiden.

Perizinan menurutnya sangat potensial menjadi alat pemerasan dan transaksi korupsi. Cara-cara seperti ini, lanjutnya, tidak boleh diteruskan dan dibiarkan. Semua kementerian, gubernur, bupati, wali kota diminta memangkas regulasi, dan perizinan yang membebani dunia usaha.

Birokrasi tidak boleh menyusahkan dunia usaha dan masyarakat. Empatpuluh dua ribu (42.000) peraturan harus dipangkas.

“Nanti mau saya buat lomba, siapa yang mampu memangkas peraturan saya beri hadiah,” ujar Presiden.

Rakyat kecil bingung, bupati membuat regulasi, payung hukumnya pasti aturan yang dibuat oleh gubernur, peraturan pemerintah, dan undang-undang.

Manakala aturan bupati dianggap salah, hanya ada dua tafsiran. Pertama bupati tidak memahami aturan di atasnya, atau aturan yang dijadikan payung hukum memang keliru.

 

Redaksi_ig

infogunungkidul

Recent Posts

Pensiunan PNS Dinas Kesehatan, Ditemukan Meninggal Dunia di Rumah

WONOSARI - KAMIS KLIWON | BDM (58) seorang lelaki pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS), Dinas…

2 jam ago

Pulang Sekolah, Bocah SD Tewas Mengenaskan Setelah Tersambar Muatan Mobil Pick Up

GUNUNGKIDUL – KAMIS KLIWON | Kecelakaan tragis menimpa seorang pelajar Sekolah Dasar (SD) di Jalan…

3 jam ago

Ribuan SPPG Dilarang Beroperasi Sementara Waktu

GUNUNGKIDUL - KAMIS KLIWON Setidaknya 1.780 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dilarang beroperasi untuk sementara…

14 jam ago

Polisi Terbitkan DPO Pelaku Pengeroyokan Pelajar 16 Tahun

YOGYAKARTA - RABU PON | POLRES Bantul resmi menerbitkan Daftar Pencarian Orang atau (DPO) terhadap…

1 hari ago

Diduga Rem Blong, Sepasang Lansia Terjun ke Selokan Sedalam 3 Meter

GUNUNGKIDUL – SENIN PAHING, Diduga kehilangan kendali, sepasang suami istri lanjut usia alami kecelakaan tunggal…

3 hari ago

Beat Vs Smash, Dua Pengendara Dilarikan Ke Rumah Sakit

NGLIPAR - SENIN PAHING, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…

4 hari ago