INFOGUNUNGKIDUL, RABU PAHING
PATUK, Disamping mengkonsumsi belalang goreng, sebagian warga Kecamatan Patuk, Gunungkidul juga gemar memakan puthul. Serangga pemakan daun pisang ini, dikutib dari berbagai sumber berasal dari uret.
Uret atau gayas menurut Wikipedia adalah larva serangga anggota ordo Coleoptera, termasuk suku Scarabaeidae. Uret, tulis Wikipedia, bisa ditemukan di sekitar sampah atau di dalam tanah yang mengandung banyak bahan organik. Uret juga bisa dijumpai pada batang pohon sebagai hama penggerek.
Larva tersebut pada usia tertentu berubah bentuk menjadi kepompong, sebagaimana ulat bermetamorphose menjadi entung, dan berkembang menjadi rama-rama (kupu-kupu).
Uret yang bermetanorphose menjadi kepompong sulit ditemukan, karena berada di dalam tanah atau di dalam tumpukan pupuk kandang, baik tai kambing atau lembu.
Biasanya, uret yang hidup pada tumpukan tai kambing fisiknya tidak melebihi jempol tangan orang dewasa. Uret yang hidup di lingkungan tai kambing itulah yang kemudian berkembang menjadi puthul, pemangsa daun pisang dan atau daun-dain yang lain.
Uret yang hidup di sekitar kandang sapi, fisiknya putih dan besar, lebih besar dari ibujari kaki manusia dewasa. Uret jenis ini, setelah dewasa berubah menjadi gareng pung
Manusia, sebagai pemakan segala (carnifora) tidak pernah membayangkan asal-muasal puthul goreng, yang belakangan menjadi kuliner ngetrend sebagaimana belalang.
“Yang jelas, rasanya gurih, tak kalah lezat dengan belalang goreng,” kata Surono, salah satu warga kecamatan Patuk menuturkan pengalaman dalam mengkonsumsi puthul goreng,(6/2). (Bambang Wahyu Widayadi)






